Minggu, 11 Desember 2011

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI FUNGI

Di pihak lain kenyataan menunjukkan bahwa 80 – 85 % kayu Indonesia mempunyai keawetan yang rendah (kelas III – IV). Dengan kata lain sebagian besar jenis kayu tersebut mudah terserang berbagai jenis organisme perusak kayu. Kenyataan ini ditunjang pula oleh letak geogarfis Indonesia di khatulistiwa dengan iklim tropisnya yang memungkinkan hadirnya berbagai jenis organisme perusak kayu seperti rayap, bubuk kayu kering, jamur pelapuk. Dengan demikian dapat dimengerti mengapa ancaman kerusakan kayu di Indonesia sangan besar.
Kayu merupakan bahan alami yang serba guna didukung oleh banyak keunggulan komparatif dibanding bahan lainnya (metal, semen, plastik, dsb). Di sisi lain kayu juga memiliki berbagai kelemahan, salah satu yang sangat penting di antaranya adalah kayu dapat terdegradasi oleh faktor biologis (jamur, rayap, kumbang, penggerek laut, dsb.). Deteriorasi kayu oleh faktor biologis (khususnya jamur) telah menimbulkan kerugian yang sangat besar dan pemborosan pemanfaatan sumber daya alam/ hutan. Pengendalian deteriorasi kayu ini akan meningkatakan efisiensi pengolahan dan pemanfaatannya serta menekan konsumsi kayu dari hutan yang kini angka deforestasi di Indonesia demikian tinggi (Priadi, 2005).
Wilayah Indonesia merupakan wilayah yang cocok untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroorganisme seperti bakteri dan jamur. Bakteri dan jamur merupakan tumbuhan tingkat rendah, dimana dalam kehidupannnya akan selalu menjadi parasit dan atau saprofit bagi organisme/benda lain. Jamur merupakan salah satu mikroorganisme yang tidak memiliki klorofil sehingga dalam mempertahankan hidupnya akan mengambil energi serta bahan-bahan organik yang dihasilkan oleh tumbuhan hijau baik yang masih hidup ataupun yang sudah mati (Iswanto, 2009).
Tidak ada alasan untuk dapat menghindari terjadinya proses kemunduran kayu dalam suatu bangunan dimana penyebab-penyebabnya dapat diatasi atau dikendalikan. Kayu yang digunakan diluar atap berhubungan langsung dengan tanah atau air laut akhirnya akan membusuk atau diserang oleh pengebor-pengebor laut atau serangga. Tetapi umur pakainya dapat sangat diperpanjang dengan perlakuan tepat. Untuk menghindari kemunduran dalam bangunan-bangunan atau untuk memperpanjang umur bahan-bahan kayu yang digunakan dibawah kondisi-kondisi yang berat, mereka yang menggunakan produk-produk kayu harus memahami kondisi-kondisi yang dapat berkembangnya kemunduran dan tindakan pencegahan yang harus diambil (Samosir, 2009).
Agen-agen biologis adalah penyebab utama kerusakan kayu, akibat dari cendawan yang menyebabkan noda, pelunakan dan pembusukan; pengebor-pengebor laut, terutama cacing-cacing laut dan kerang-kerang laut kecil; serangga termasuk rayap, semut kayu; berbagai kumbang pengebor kayu; dan bekteri yang menyebabkan pelapukan pada kayu yang apabila lama terendam oleh air (Samosir, 2009).
Sebenarnya kerugian akibat serangan jamur setiap tahunnya sangat besar, namun masih jarang dilakukan penelitian-penelitian maupun publikasi-publikasi untuk mengetahui seberapa besar kerugian yang terjadi akibat serangan jamur. sebagian contoh di Amerika Serikat kerugian akibat pelapukan bangunan diduga lebih dari 200 juta dolar per-tahun.

Deskripsi Jamur
Jamur merupakan tumbuhan tingkat rendah yang tidak mempunyai zat hijau (chlorophyl). Untuk hidupnya mereka berperan sebagai parasit atau saprofit (Tambunan dan Nandika, 1989), yang tidak dapat menghasilkan makanannya sendiri (Hunt dan Garrat, 1986).
Jamur merupakan organisme eukariota yang digolongkan kedalam kelompok cendawan sejati. Dinding sel jamur terdiri atas kitin, sel jamur tidak mengandung klorofil. Jamur mendapatkan makanan secara heterotrof dengan mengambil makanan dari bahan organik. Bahan organik disekitar tempat tumbuhnya diubah menjadi molekul-molekul sederhana dan diserap langsung oleh hifa, jadi jamur tidak seperti organisme heterotrof lainnya yang menelan makanannya kemudian mencernanya sebelum diserap (Gunawan, 2000).
Mikroorganisme ini dapat dibedakan dalam empat golongan tergantung pada sifat perkembangan didalam dan pada kayu, dan tipe kerusakan yang ditimbulkan olehnya. Hunt dan Garrat (1986) menyatakan golongan-golongan tersebut adalah cendawan perusak kayu, pewarna kayu, cendawan buluk dan bakteri penyerang kayu.

Jamur Sebagai Jasad Renik
Jasad renik merupakan salah satu faktor yang banyak menimbulkan kerusakan pada kayu. Jasad renik tersebut terdiri dari jamur dan bakteri, dimana bagian vegetatifnya secara individu hanya dapat dilihat dengan jelas dibawah mikroskop karena ukurannya sangat kecil. Jasad renik adalah sejenis tumbuhan tingkat rendah yang tidak mengandung klorofil, oleh karena itu mereka mempertahankan hidupnya dengan energi dan bahan organik yang dihasilkan oleh tumbuhan hijau. Dengan demikian kayu sebagai produk terbesar dari tumbuhan hijau merupakan sumber makanan bagi berbagai jenis jamur dan bakteri. Berdasarkan medium tempat jasad renik itu berkembang dan sifatnya yang saprofit dan parasit, jasad renik berbeda dengan tanaman hijau (Tambunan dan Nandika, 1989).
Ciri-ciri Jamur
Jamur atau fungi merupakan tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof, tipe sel eukarotik. Jamur ada yang uniseluler dan multiseluler. Tubuhnya terdiri dari benang-benang yang disebut hifa, hifa dapat membentuk anyaman bercabang-cabang yang disebut miselium. Jamur pada umumnya multiseluler (bersel banyak). Ciri-ciri jamur berbeda dengan organisme lainnya dalam hal cara makan, struktur tubuh, pertumbuhan, dan reproduksinya (Gandjar dkk, 1999).
Struktur Tubuh Fungi/Jamur
Struktur tubuh jamur tergantung pada jenisnya. Ada jamur yang satu sel, misalnya khamir, ada pula jamur yang multiseluler membentuk tubuh buah besar yang ukurannya mencapai satu meter, contohnya jamur kayu. Tubuh jamur tersusun dari komponen dasar yang disebut hifa. Hifa membentuk jaringan yang disebut miselium. Miselium menyusun jalinan-jalinan semu menjadi tubuh buah (Tapa, 2004).
Morfologi Fungi
Bagian vegetatif pada jamur umumnya berupa benang-benang halus memanjang, bersekat (septa) atau tidak, dinamakn dengan hifa. Kumpulan-kumpulan benang-benang hifat tersebut dinamakan dengan miselium. Miselium dapaat dibedakan menjadi dua tipe pokok. Yang pertama mempunyai hifa senositik (coenocytic), yaitu hifa yang mempunyai banyak inti dan tidak mempunyai sekat melintang, jadi hifa ini berbentuk tabung halus yang mengandung protoplas dengan banyak inti. Pembelahan intinya tidak diikuti oleh pembelahan sel. Yang kedua mempunyai hifa seluler (celluler), hifa terdiri dari sel-sel, yang masing-masing mempunyai sat atau dua inti (Semangun, 1996).
Habitat Jamur/Fungi
Semua jenis jamur bersifat heterotrof. Namun, berbeda dengan organisme lainnya, jamur tidak memangsa dan mencernakan makanan. Untuk memperoleh makanan, jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya, kemudian menyimpannya dalam bentuk glikogen. Oleh karena jamur merupakan konsumen maka jamur bergantung pada substrat yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. Semua zat itu diperoleh dari lingkungannya. Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit fakultatif, atau saprofit (Saragih, 2008).
Hifa
Hifa dapat dibedakan atas dua tipe hifa yang fungsinya berbeda, yaitu yang menyerap unsur hara dari substrat dan yang menyangga alat-alat reproduksi. Hifa umumnya rebah pada permukaan substrat atau tumbuh pada ke dalam substrat dan fungsinya untuk mengabsorbsi unsur hara yang diperlukan bagi kehidupan fungi disebut hifa vegetatif. Hifa yang umumnya tegak pada miselium yang terdapat di permukaan substrat yang disebut hifa fertil, karena berperan untuk reproduksi. Hifat-hifat yang telah menjalin suatu jaringan miselium makin lama makin tebal dan membentuk suatu koloni yang dapat dilihat mata telanjang (Semangun, 1996).
Hifa adalah struktur menyerupai benang yang tersusun dari dinding berbentuk pipa. Dinding ini menyelubungi membran plasma dan sitoplasma hifa. Sitoplasmanya mengandung organel eukariotik. Kebanyakan hifa dibatasi oleh dinding melintang atau septa. Septa mempunyai pori besar yang cukup untuk dilewati ribosom, mitokondria, dan kadangkala inti sel yang mengalir dari sel ke sel. Akan tetapi, adapula hifa yang tidak bersepta atau hifa senositik.
Struktur hifa senositik dihasilkan oleh pembelahan inti sel berkali-kali yang tidak diikuti dengan pembelahan sitoplasma. Hifa pada jamur yang bersifat parasit biasanya mengalami modifikasi menjadi haustoria yang merupakan organ penyerap makanan dari substrat; haustoria dapat menembus jaringan substrat.
Jenis-jenis Jamur
Jamur Trametes versicolor
Klasifikasi jamur jenis ini adalah sebagai berikut:
Kingdom : Fungi
Divisio : Basidiomycota
Class : Hymenomycetes
Ordo : Aphyllophorales
Family : Polyporaceae
Genus : Trametes
Spesies : Trametes versicolor
Adapun ciri-ciri jamur jenis ini adalah sebagai berikut:
  1. Warna coklat keputih-putihan hingga putih kekuningan dengan tepi bergerigi
  2. Permukaan badan buah jamur berbulu
  3. Jamur tidak memiliki tangkai, langsung melekat pada kayu
  4. Teksturnya menyerupai kulit
  5. Pada badan jamur terlihat zonasi pertumbuhan jamur
  6. Bentuk basidiokarpa/badan buah seperti ekor kalkun yang sedang mengeliat.
Wood dan Stevens (1996) mengemukakan bahwa pori jamur ini memiliki ukuran 4-6 x 1,5-2,5 um, berbentuk silindrikal berliku yang ramping, permukaan halus, hyaline/hymeniumnya berwarna putih hingga kuning pucat dalam lapisannya. Berdasarkan bentuk penyerangnya, trametes versicolor termasuk kedalam jenis jamur White rot. Jamur ini merombak lignin dan sebagian selulosa. Kayu yang diserang akan berwarna putih.
Jamur Ganoderma applanatum
Klasifikasi jamur jenis ini adalah sebagai berikut:
Kingdom : Fungi
Divisio : Basidiomycota
Class : Basidiomycetes
Ordo : Polyporales
Family : Ganodermataceae
Genus : Ganoderma
Species : Ganoderma applanatum
Adapun ciri-ciri jenis ini adalah sebagai berikut:
  1. Berwarna putih, dengan cepat berubah menjadi coklat apabila dilukai. Memudar menjadi pucat kekuning-kuningan ketika basah.
  2. Bdan buah 9basidiokarpa) jamur keras dan kaku
  3. Basidiokarpa tersebar rata pada substratum
  4. Sporanya tidak terlihat sebagaimana jamur pada umumnya, namun jika ditepukkan maka sporanya akan jatuh.
  5. Jamur tidak memiliki tangkai, langsung melekat pada kayu.
Ganoderma applanatum termasuk kedalam kalsifikasi jamur perusak kayu kelompok Brown rot. Jamur ini merupakan jamur tingakt inggi dari kelas Basidiomycetes yaitu golongan jamur yang meneyrang holoselulosa kayu dan meninggalkan residu kecoklat-coklatan yang kaya akan lignin (Tambunan dan Nandika, 1989).
Faktor yang Mempergaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Jamur
Menurut Tambunan dan Nandika (1989), ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan jamur antara lain:
  1. Temperatur
Jamur perusak kayu dapat berkembang pada interval suhu yang cukup lebar, tetapi pada kondisi-kondisi alami perkembangan yang paling cepat terjadi selama periode-periode yang lebih panas dan lebih lembab dalam setiap tahun. Suhu optimum berbeda-beda untuk setiap jenis, tetapi pada umumnya berkisar antara 220C sampai 350C. Suhu maksimumnya berkisar antara 270C sampai 390C dengan suhu minimum kurang lebih 50C.
  1. Oksigen
Oksigen sangat dibutuhkan oleh jamur untuk melakukan respirasi yang menghasilkan CO2 dan H2O. sebaliknya untuk pertumbuhan yang optimum, oksigen harus diambil secara bebas dari udara. Tanpa adanya oksigen, tidak ada jamur yang dapat hidup.
  1. Kelembaban
Kebutuhan jamur akan kelembaban berbeda-beda, namun hampir semua jenis jamur dapat hidup pada substrat yang belum jenuh air. Kadar air subtrat yang rendah sering menjadi faktor pembatas bagi pertumbuhan jamur. hal ini terutama berlaku bagi jenis jamur yang hidup pada kayu atau tanah. Kayu dengan kadar air kurang dari 20% umumnya tidak terserang jamur perusak, sebaliknya kayu dengan kadar air 35-50% sangat disukai oleh jamur perusak.
  1. Konsentrasi hidrogen (pH)
Pada umumnya jamur akan tumbuh dengan baik pada pH kurang dari 7 (dalam suasana asam sampai netral). Pertumbuhan yang optimumakan dicapai pada pH 4,5 sampai 5,5.
  1. Bahan makanan (nutrisi)
Jamur memerlukan makanan dari zat-zat yang terkandung dalam kayu seperti selulosa, hemiselulosa, lignin dan zat-zat isi sel lainnya. Selulosa, hemiselulosa dan lignin yang menyusun kayu terdapat sebagai makromolekul yang terlalu besar dan tidak larut dalam air untuk diasimilasi langsung oleh cendawan.
Menurut Gandjar et al., (2006), secara umum pertumbuhan fungi dipengaruhi oleh substrat, kelembaban, suhu, derajat keasaman substrat (pH), dan senyawa kimia dilingkungannya.
Pengaruh Serangan Jamur
Pengaruh serangan jamur terhadap sifat-sifat kayu secara umum adalah:
  1. Pengaruh berat, hilangnya sebagian selulosa dan lignin karena dirombak oleh jamur. Bila persentase penyerangan jamur ini tinggi, maka kayu menjadi semakin ringan.
  2. Pengaruh kekuatan, kayu yang diserang jamur akan mempengaruhi sifat keteguhan pukul, keteguhan lengkung, keteguhan tekan, kekerasan serta elastisitasnya dan mengakibatkan kekuatan kayu akan berkurang.
  3. Peningkatan kadar air, kayu yang lapuk akan menyerap air lebih banyak dari pada kayu yang segar sehat.
  4. Penurunan kalori, nilai kalori ada hubungannya dengan intesitas serangan. Apabila intensitas pelapukan semakin tinggi maka nilai kalori semakin kecil, sebab kayu yang lapuk memberikan panas yang lebih kecil dari pada kayu yang sehat.
  5. Perubahan warna, white-rot menimbulkan warna putih, brown-rot menimbulkan warna coklat, sedangkan blue-stain menimbulkan warna hitam kebiru-biruan.
  6. Perubahan bau, umunya kayu lapuk baunya berbeda dengan kayu yang sehat. Kayu lapuk baunya sangat tidak menyenangkan bagi pencium
  7. Perubahan struktur mikroskopis, white-rot menyebabkan dinding sel kayu makin lama- makin tipis dan akhirnya habis. Brown-rot menyerang selulosa kayu. Soft-rot hanya menyerang diding sekunder dan bila dilihat dengan mikroskop polarisasi maka terlihat lubang-lubang spiral yang memanjang.
(Damanik, 2003).
Ciri luar yang membedakan fungi adalah bentuk vegetatif yang berupa benang (filamen). Miselia mempunyai tenunan yang sederhana dan terbatas ataupun bercabang-cabang yang ukurannya sangat menarik perhatian. Sering terjadi pembentukan spora khusus atau badan buah yang bagi beberapa golongan berukuran makroskopis sederhana dari fungi payung dan fungi penumpu, yang berukuran luar biasa.
Kayu
Kayu sebagai bahan biologis tidak terdegradasi atau rusak karena pengaruh waktu tetapi karena faktor eksternal. Berbagai macam faktor eksternal yang terdiri atas tumbuhan (bakteri, jamur), binatang (serangga, binatang laut), iklim, mekanis, kimia, panas, dapat menyebabkan degradasi dari penampakan, struktur, ataupun komposisi kimia kayu (Tsoumis, 1991).
Inokulasi
Inokulasi adalah terjadinya kontak antara patogen tumbuhan. Patogen-patogen yang sampai dan menyebabkan terjadinya kontak dengan tumbuhan disebut inokulum. Inokulum adalah bagian patogen yang dapat memulai infeksi. Interval waktu antara inokulasi dengan munculnya gejala penyakit disebut periode inkubasi. Lama periode inkubasi berbagai penyakit bervariasi, khususnya dengan kombinasi inang-patogen, dengan tingkat perkembangan inang, dan dengan suhu lingkungan tumbuhan yang terinfeksi. Pada fungi inokulum dapat berupa spora, sklerotium atau bagian-bagian miselium (Yunasfi, 2008).
Penetrasi
Patogen mempenetrasi permukaan tumbuhan secara langsung melalui lubang-lubang alami, atau melalui luka. Fungi ada yang dapat melakukan penetrasi dengan satu cara dan ada yang dua cara. Proses penetrasi ini dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :
a. Penetrasi langsung melalui permukaan yang utuh, menggunakan apresorium.
b. Penetrasi melalui luka
c. Penetrasi melalui lubang-lubang alami, banyak fungi dan bakteri masuk ke dalam tumbuhan melalui stomata, hidatoda, nektartoda dan lentisel
(Yunasfi, 2008).
Infeksi
Infeksi adalah proses saat patogen melakukan kontak dengan sel atau jaringan tumbuhan yang rentan dan mendapatkan makanan dan tumbuhan tersebut. Infeksi yang berhasil akan mengakibatkan timbulnya bagian yang berubah warna, berubah bentuk, atau nekrosis pada tumbuhan inang yang disebut gejala, dan ada yang tidak menghasilkan gejala yang disebut laten dan gejala ini akan kelihatan pada waktu berikutnya di saat kondisi lingkungan lebih menguntungkan (Yunasfi, 2008).

2 komentar:

Pengikut