Senin, 28 November 2011

PEMBUATAN TRASE JALAN


Pada umumnya pembangunan jalan Indonesia, terutama daerah-daerah, dikerjakan secara sederhana dengan menggunakan tenaga dan peralatan seadanya, sehingga jalan tersebut tergolong dalam konstruksi jalam merah. Hal ini disebabkan karena terbatasnya:


      1. Biaya yang tersedia

      2. Peralatan yang ada

      3. Tenaga-tenaga ahli, terlatih dan terdidik

      4. Fasilitas labotatorium
Namun demikian hasilnya akan cukup memuaskan andaikata diperhatikan hal-hal sebagai berikut.

        1. Memilih sistem konstruksi paling aman

        2. Memilih sistem pelaksanaan yang baik

        3. Selalu mengikuti perkembangan lalu lintas

        4. Mengadakan pemeliharaan yang intensif
(Soedarsono, 1987).
Penentuan lokasi jalan merpakan suatu tahapan dalam rekayasa jalan yang dlakukan setelah tahapan perencanaan (planning) dan sebelumnya tahap perancangan (design) suatu jalan. Seorang perencana menetapkan kebutuhan akan jalan ddalam suatu daerah, sedangkan seorang ahli rekayasa jalan akan merancang secara terperinci bentuk jalan berdasarkan kondisi di lapangan dan dengan menggunakan standar-standar perencanaan titik-titik yang harus dihindari (milling point). Penentuan lokasi jalan adalah penentuan koridor terbaik antara dua titik yang harus dihubungkan dengan juga mempertimbangkan lokasi-lokasi yang harus dihindari. Koridor dapat didefinisikan sebagai bidang memanjang yang menghubungkan dua titik. Sedangkan trase jalan adalah seri dari garis-garis lurus yang merupakan rencana dalam sumbu jalan. Dalam penentuan lokasi jalan, terdapat dua kegiatan yaitu : Tahap pertama adalah studi penyuluhan untuk menentukan koridor yang memenuhi syarat dan Tahap kedua adalah meliputi suatu tinjauan yang lebih mendalam dari alternatif-alternatif koridor yang telah diidentifikasi pada tahap sebelumnya. Hasil dari tahapan ini merupakan suatu rancangan dalam koridor terbaik (Budiman, 1996).
Jalan hutan berfungsi sebagai prasarana pengawasan., pengangkutan bibit, material dan hasil hutan. Dalam pemungutan hasil hutan sistem jaringan merupakan hasil dari pada ekonomi pemanenan hasil hutan. Praktek pembuatan jalan hutan dapat bervariasi dalam suatu tempat ke tempat lain bergantung dari banyak factor-faktor seperti keadaan medan kerja, peralatan yang digunakan, intensitas perlakuan terhadap jalan dan sebagainya yang perlu dalam pembuatan jalan ada keseimbangan kondisi kemiringan dan lebar. Jalan mempengaruhi kemampuan efektif truk angkutan selain itu bahwa belokan yang lebar dan pandangan pengemudi ke depan jauh sehingga dapat memperlancar kesiapan pengangkutan (Elias, 1995).
Kelengkapan jalan transportasi seringkali dapat dijadikan tolak ukur tingkat kemajuan suatu wilayah, yang paling jelas adalah bahwa semakin baik jaringan transportasi di suatu wilayah tersebut. Sesuai dengan perannya dalam pembangunan ekonomi, jaringan transportasi juga dapat menilai pembangunan, sehingga pembangunan jaringan transportasi, khususnya jalan mendapat perhatian yang cukup tinggi. Namun, seperti juga rencana pembangunan lainnya, pembangunan jaringan transportasi harus direncanakan secara baik dan salah satu aspek dalam merencanakan pembangunan jaringan transportasi adalah aspek rekayasa, khususnya rekayasa jalan (Mayer dan Gibson, 1984).
Dalam perencanaan jalan raya, bentuk geometriknya harus ditetapkan sedemikian rupa sehingga jalan tersebut dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada kegiatan lalu lintas sesuai dengan fungsinya. Ada 3 jenis klasifikasi dalam medan bidang kehutanan, yaitu datar, pembukitan dan pegunungan (Sunggono, 1984).
Adapun tujuan dari pembuatan trase jalan ini adalah :

  1. Praktikan mengerti cara pembuatab trase jalan (garis rencana jalan)

  2. Praktikan mampu membuat trase jalan

  3. Praktikan dapat membuat persen masing-masing helling
Penempatan titik kontrol untuk memperlihatkan sumbu route yang telah ditentukan diatas kertas hanya dengan garis-garis lurus adalah lokasi persilangan garis-garis lurus tersebut dan titik-titik perpanjangan garis lurus. Titik awal dan titik akhir suatu jalan raya dinyatakan hanya dengan garis-garis lurus yang ada pada titik silang. Titik-titik ini sebaiknya ditempatkan dengan triangulasi atau pengukuran jaring-jaring berdasarkan masing-masing titik kontrol pendahuluan yang berisikan route rencana, maka ditempatkan titik-titik pemanjangan garis lurus darimana kedua titik dapat dilihat (Gayo, 2005).
Proyek-proyek besar atau lokasi-lokasi tertentu,penentuan lokasi jalan memang pekerjaan yang rumit dan memerlukan bantuan dan ahli-ahli geotenik, ahli pengukuran, ahli lalu lintas, ahli ekonomi, ahli biaya aau lingkungan, ahli sosial dan sebagainya. Sementara itu pada rencana jalan yang pendek, seringkali tidak terdapat banyak altenatif koridor tersebut dengan skala 1:1000 atau 1:2000. Peta ini digolongkan sebagai peta jalur (trip) karena bentuknya berupa jalur. Lebar dari jalan yang dipetakan umumnya meliputi wilayah selebar 50 sampai 100 m. Gambar-gambar rancangan yang dipakai untuk konstruksi dibuat diatas peta jalan ini, sementara untuk daerah disekitar lokasi perpotongan dengan sungai dan pada daerah yang sulit umumnya digambar pada peta dengan skala yang lebih detail (Budiaman, 1996).
Pada perencanaan trase jalan hutan hal yang paling penting harus diperhatikan adalah persyaratan untuk teknik jalan hutan, yaitu kemiringan lapangan memanjang jalan tidak boleh melewati 12 %, sedapatnya lebih kecil dari 10 %. Semakin lurus jalan yang dibuat, maka biaya jalan akan semakin murah. Adanya pembatas-pembatas atau kendaraan di lapangan (misalnya kelerengan, tanah yang labil, tempat migrasi satwa dll) menyebabkan pembuatan jalan yang lurus tidak sepenuhnya dapat dilaksanakan. Di hutan terdapat areal yang harus dihindari areal / kawasan tertentu yang dilindungi peraturan-peraturan perundang-undangan misalnya kawasan lindung, kanan-kiri sungai, mata air dan areal yang sangat curam. Pada jalan yang menanjak akan mempertingkat masa pakai / life time alat (misalnya masa pakai truk 10 tahun menjadi hanya 5 tahun). Jalan yang terlalu menanjak juga akan meningkatkan biaya operasional (biaya mesin, BBM(Bahan Bakar Minyak) atau oil, pemeliharaan dan perbaikan alat (Herwiyono, 1994).
Kegunaan dan pembuatan belokan / busur lingkaran di lapangan adalah untuk membuat jalan raya, jalan kreta api, salran air untuk pengairan dan sebagainya. Apabila route sebuah rencana jalan raya yang tergambar diatas kertas yang menurut rencana kerjanyaakan ditempatkan di lapangan, maka pengukuran-pengukuran serta hal-hal lain yang dibutuhkan untuk hal-hal ini adalah penempatan lokasi, titik silang dan titik-titik perpanjangan garis lurus ataupun titik belokan, sifat datar profil dan putaran melintang, serta pengukuran topografi. Penempatan titik-titik kontrol di lapangan untuk memperlihatkan sumber-sumber route yang telah ditentukan diatas kertas, masing-masing adalah titik awal dan akhir suatu rencana jalan raya. Pembuatan titik belokan ini sangat membantu si Pembuat jalan, karena apabila kita telah menentukan titik belokan pengukuran dibuat diatas kertas, maka si Pembuat jalan bisa dengan cepat membuat jalan tersebut (Simon, 1987).
Belokan diberi nama sesuai dengan panjang jari-jarinya. Lengkungan dapat juga diberi nama sesuai dengan derajat kelengkungannya yang didefinisikan sebagai banyaknya derajat yang berhadapan dengan pusat suatu bus, lengkungan melalui titik yang sudah diketahui. Bila menghadapi lengkungan yang panjang dan berjari-jari besar (lebih dari 100 m), pematokan harus dilakukan dengan menggunakan theodolit agar didapat ketelitian yang diinginkan. Lengkungan berjari-jari kecil dapat dipatok dengan cepat dan akurat harus dengan menggunakan pita ukur. Prosedur umumnya (perancangan lengkungan) dilakukan dengan sudut belokan. Lengkungan melingkari dipasang dengan sudu-sudut belokan yang penting dan tali busur, simpangan tangen, simpangan tali busur, dan koordinat tertentu (Meyor dan Gibson, 1984).
Dalam pembuatan trase jalan kereta api, jalan raya dan saluran air diperlakukan profil memanjang jalan yang dibuat pada sumbu atas jalan yang diperlukan untuk menghitung timbunan. Masalah pokok dalam pembuatan analisis penentuan distribusian adalah penentuan lokasi dari penstasiunan titik-titik profil keseimbangan antara galian sama dengan timbunan dengan penyusutan yang diperbolehkan. Pada pekerjaan membuat titik-titik keseimbangan (balance) yang utama di dapat dengan membuat titik-titik yang terpisah dari galian-galian dan timbunan-timbunan yang telah di koreksi titik keseimbangan ditentukan letaknya dimana kedau sub total adalah sama dengan nilai-nilai yang dimiliki titik koreksi (Kartasapoetra,1991).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut