Senin, 28 November 2011

ANALISIS PETA


Pada umumnya peta adalah sarana guna memperoleh gambaran data ilmiah yang terdapat di atas permukaan bumi dengan cara menggambarkan berbagai tanda-tanda dan keterangan-keterangan, sehingga mudah dibaca dan dimengerti. Jadi peta adalah hasil pengukuran dan penyelidikan yang dilaksanakan baik langsung maupun tidak langsung mengenai hal-hal yang bersangkutan dengan permukaan bumi dan didasarkan pada landasan ilmiah. Peta dapat memberikan gambaran mengenai atmosfir,mengenai kondisi kondisi permukaan tanah, mengenai keadaan laut ,mengenai bahan yang membentuk lapisan tanah dan lain-lain. Adapun pete-peta yang memberikan gambaran mengenai hal-hal tersebut di atas, berturut-turut disebut peta meteorology, peta permukaan tanah, peta hidrografi, peta geologi dan lain-lain yang kesemuanya adalah peta dalam arti yang luas.
Peranan peta sebagi landasan dasar pekerjaaan pengukuran adalah sangat penting. Dalam rangka kegiatan teknik sipil, maka peta topografi yang seksama adalah sangat penting. Dalam rangka teknik sipil, maka peta topografi yang seksama adalah merupakan data dasar yang harus tersedia agar dapat dilakukan perencanaan serta pembuatan rencana teknisnya. Demikian pula dengan kegiatan-kegiatan lainnya seperti pembuatan rencana tata guna tanah, peta merupakan data yang mutlak diperlukan. Selain itu dalam perhitungan volume pekerjaan tanah, baik timbunan maupun galian diperlukan adanya peta.
Apabila suatu kegiatan dalam rangka pembangunan yang bersifat teknik sipil dilaksanakan pada suatu daerah yang luas, yang biasanya dirangkum dalam rangka rencana pengembangan wilayah, maka peta tofografi serta data pengukuran lainnya merupakan data yang sangat vital.Sejak dari penjualan permulaan hingga tahap pelaksanaan proyek-proyek yang bersangkutan, pemetaan dan pengukuran adalah sesuatu kegiatan yang tidak dapat dihindari. Jadi pemetaan dan pengukuran adalah suatu unsur kegiatan yang tak dapat dipisahkan dari pekerjaan-pekerjaan teknik sipil.
Untuk rencana teknis pendahuluan, biasanya dilaksanakan pekerjaan pengukuran yang dikenal dengan pengukuran terpakai, yatu suatu pekerjaan pengukuran lokal yang diperlukan umtuk perencanaan atau perencanaan teknis. Hasil pengukurannya langsung diplott pada peta skala besar yang sudah tersedia dan dapat digunakan sebagai peta perencanaan atau bahkan gambar rencana.
Pengukuran terpakai adalah semua pengukuran yang dikerjakan berdasarkan data titik kontrol yang telah ada dan berdasarkan peta hasil pengukuran detail. Dengan demikian, ketelitian dari hasil pengukuran terpakaii yang umumnya merupakan peta skala besar seluruhnya tergantung dari pengukuran-pengukuran yang telah dikerjakan sebelumnya.
Jadi, perlu diadakan praktikum tentang analisis peta agar kita mendapat pengetahuan tentang bagaiman mengelola gambar yang ada di dalam suatu peta.

Dalam pembuatan peta dasar, pertama-tama yang harus diperhatikan adalah efisiensi. Jadi metode yang dipilih haruslah dengan mempertimbangkan faktor utama tersebut yaitu efisiensi yang tentu saja disesuaikan dengan persyaratan untuk peta yang akan dibuat. Dalam pembuatan peta dasar, perhatian haruslah pula dicurahkan pada cara-cara melakukan penggambaran seperti penintaan manskrip, pengkalkiran, penulisan, penempelan dan lain-lain. Dalam hal ini penintaan dan pengkalkiran dilakukan tanpa menggunakan cara-cara stempel atau cetakan(Sasrodarsono, 2005).
Ketelitian peta mencakup kesalahan-kesalahan akibat serangkaian pengukuran, kesalahan plotting data pengukuran, kesalahan yang umumnya terjadi pada saat penggambaran simbol-simbol dan lain-lain. Mengingat kesalahan-kesalahan yang disebabkan pengukuran dan plotting telah diuraikan, maka dibawah ini memberikan uraian kesalahan yang terjadi pada saat penggambaran peta. Kesalahan yang disebabkan oleh alat-alat penggambaran seperti ketebalan pensil, kesalahan pada penyimpangan penempatan mistar pengaris dan lain-lain sedapat mungkin disesuaikan agar besarnya tidak melebihi 0,2 mm (Sasrodarsono, 2005).
Supaya kita dapat melakukan pengukuran dengan lebih mudah kita harus mengambil gari yang lurus yang memotong suatu gambaran kualikatif dan kuantitatif mengenai keadaan lapangan (areal hutan) merupakan instrument pembantu yang sangat penting dalam merencanakan pembukaan wilayah hutan (PWH), merencanakan alat atau mesin yang akan dipakai dan memperkirakan kesulitan/masalah yang akan dihadapi . Di dalam klasifikasi lapangan dari segi kehutanan dikenal suatu sistem kelas lapangan yang berlaku umum, yang tidak tergantung dari alat pemanenan hasil hutan ( wongsoetjitro, 1998).
Pada hakikatnya, permukaan bumi bukanlah merupakan bidang datar, akan tetapi berbentuk elips yang mendekati bentuk sporis, yaitu bidang sporis yang terbentuk akibat perputaran bumi mengelilingi sumbunya. Sehubungan dengan bentuk kulit bumi yang demikian itu, maka telah ditetapkan salah satu karakteristik tertentu untuk permukaan bumi tersebut yaitu perpotongan anatara permukaan bumi dengan bidang datar yang melalui sumbu bumi disebut meridian atau garis bujur. Skala dalam pembuatan peta adalah besarnya reduksi yang diambil untuk peta yang dibuat terhadap areal permukaan bumi yang sesungguhnya, yaitu perbandingan jarak antara dua buah titik pada peta terhadap jarak antara kedua titik tersebut pada keadaan yang sebenarnya. Skala umumnya dinyatakan dalam bentuk angka 1 yang dibagi dengan angka tertentu dibelakang yang merupakan bilangan dengan angka 1 sebagai pembilang (Wirshing , 1995).
Peta 1 : 25000 dapat dianggap sebagai peta terkecil yang berguna bagi perencanaan pembangunan. Peta dengan skala tersebut cukup menyenangkan untuk digunakan sebagai dasar. Penting kiranya memperhatikan perbedaan antara peta dan denah . Suatu denah akan dengan cermat memberikan batasan lebar jalan, ukuran bangunan, dll. Dengan kata lain, setiap ciri dinyatakan dengan tepat menurut skala . Sebaliknya, peta hanyalah sesuatu yang mewakili , secermat apapun yang digambarkan. Sebagai contoh, jalan desa yang berliku–liku hanya cukup untuk dilalui satu mobil, berukuran hampir 1 milimeter pada peta 1 : 50000. Ukuran ini mewakili 50 meter, jauh melebihi lebar jalan sebenarnya. Rincian pada peta ini ditunjukkan sesuai dengan skala, hanya lebar jalan yang sempit yang ukurannya dibesarkan. Relief permukaan diperlihatkan dengan garis kontur pada selang vertikal 10 meter di daerah pegunungan dan selang vertikal 5 meter untuk daerah lainnya . Kisi nasional ditumpangkan pada selang 5 km (Irvine, 1995).
Pada hakikatnya besar kecilnya skala akan menentukan ketelitian gambar-gambar yang terdapat dalam peta yang bersangkutan. Pata dengan skala yang lebih besar, memungkinkan penjelasan. Penjelasan yang lebih mendetail untuk daerah yang dicakup dalam pemetaan. Sebaiknya peta dengan skala yang lebih kecil, maka peta akan memerikan penjelasan yang bersifat lebih umum dan beberapa penjelasan terpaksa harus dihilangakan, karena kondisi-kondisi plamimetris dan tofografis haruslah dapat dinyatakan dalam ukuran–ukuran simbol yang cukup besar untuk dapat dibaca, akan tetapi dengan ukuran yang yang kecil dapat mencakup daerah yang lebih luas
( Abdullah, 1993 ).
Proyeksi peta seperti yang telah diuraikan di atas, peta adalah sarana guna untuk memperoleh imformasi mengenai keadaan permukaan bumi yang erbentuk speris, akan tetapi diproyeksi pada bidang datar. Sebagai bidang speris(permukaan sebuah bola) maka bola bumi dengan jari-jari + 6.370 km, adalah merupakan bola bumi dapatlah diangap sebagai bidang datar. Sebagaii contoh, kesalahan relative yang diijinkan untuk pengukuan jarak, yaitu selisih antara jarak yang diukur dengan memperlihatkan kulit bumi sebagai bidang datar (Briker and Wolf, 1989).
Pada peta, bentuk-bentuk permukaan bumi yang perlu digambarkan yang disesuaiakan dengan maksud pembuatan peta tersebut harus dipilih berdasarkan skala yang diminta dan dinyatakan dalam bentuk gambar yang mudah dibaca serta mudah dimengerti. Peraturan yang detail untuk penentuan gambar-gambar dalam rangka pembuatan peta disebut simbol. Bagaimana dan seberapa jauh gambar-gambar yang cocok disesuaikan maksud pembuatan peta tersebut simbol-sibol haruslah direncanakan terlebih dahulu, baik bentuknya, ukurannya, letaknya pada peta, warnanya, dan lain-lain (Soejadi, 1980).
Skala peta merupakan faktor utama yang dapat mempengaruhi kuanlitan dan kamunitas penyajian peta. Semakim besar skala suatu peta, akan semakin rinci dan semakin akurat data yang ditampilkan pada muka peta. Sebaliknya semakin kecil skala peta akan semakin kurang rinci dan kurang akurat data yang ditampilkan. Sebagai contoh pada peta skala 1: 1.000 bentuk rumah dan pola jalan dapat disesuaikan sesuai dengan aslinya tetapi bentuk diatas sudah mengalami generalisasi khususnya untuk pemetaan tematik, disamping skala peta tingkat generalisasi ini juga dipengaruhi oleh tujuan pemetaan sebab unsur-unsur tertentu dapat ditonjolkan ( Henrick, 1905 ).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut