Senin, 12 Desember 2011

Istirahatkan Otak 20 Menit Untuk Mengingat Sesuatu yang Lupa


Berdasarkan studi yang dilaporkan dalam Nature Neuroscience, ketika seseorang mencoba mengingat sesuatu secara cepat hal yang dilupakannya, maka ada berbagai informasi yang saling bertolak belakang sehingga mengganggu kemampuan otak untuk mengingat.

Hal ini menunjukkan bahwa otak tidak memiliki kapasitas yang terbatas untuk menyimpan informasi, tapi membutuhkan beberapa waktu untuk mempelajari hal-hal baru sehingga bisa benar-benar menyimpannya.

“Terkadang memori kedua yang masuk ke otak kemungkinan bisa menggangu memori pertama yang sudah ada,” ujar Edwin Robertson D.Phill, profesor neurologi dari Harvard Medical School, seperti dikutip dari, Menshealth.com, Jumat (9/9/2011).

Untuk memastikan bahwa seseorang tidak kehilangan informasi yang penting, maka cobalah untuk mengambil napas dalam-dalam. Robertson menuturkan jika ingin mengingat dua hal yang berbeda atau tidak berhubungan, maka cobalah mengambil istirahat selama 20 menit diantara keduanya.

Dalam studi sebelumnya peneliti menemukan memberikan waktu istirahat selama 20 menit sudah cukup bagi otak merefresh, sehingga bisa berpikir lebih jernih dan mengingat kembali.

Lupa merupakan ketidakmampuan seseorang untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam memori otaknya. Umumnya seiring bertambah usia, kemampuan memori otak juga akan menurun.

Selain melakukan istirahat ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan memori dan mengurangi risiko mudah lupa, yaitu tetaplah aktif secara mental, sosial dan fisik, serta mengonsumsi makanan yang bisa menyehatkan otak seperti rendah lemak dan kolesterol tapi kaya akan sayuran berwarna gelap dan juga buah-buahan.

Sumber: detikhealth.com

Membuat Pupuk Cair Sendiri



Berikut ini tahap demi tahap membuat pupuk cair organik.
  • Siapkan satu botol plastik bekas air minum kemasan ukuran 1.500 ml.
  • Masukkan satu ons tape singkong ke dalam botol tadi.
  • Beri air secukupnya, tidak perlu sampai penuh.
  • Tambahkan gula pasir atau gula merah/gula jawa ke dalam larutan air tape tadi sebanyak lima sendok makan.
  • Kocok atau aduk hingga larutan merata.
  • Lakukan fermentasi. Biarkan botol terbuka selama 4 – 5 hari. Bisa juga botol ditutup tetapi beri lubang untuk pernapasan. Biarkan hingga mikroorganisme lokal (MOL) berkembang.
  • Setelah lima hari akan tercium bau alkohol, maka MOL sudah jadi dan bisa dipakai.
Cara Pakai:
Karena sifatnya panas, MOL perlu diencerkan lebih dulu sebelum diberikan ke tanaman sebagai pupuk cair. Perbandingannya 1 : 15, yaitu satu bagian MOL dicampur dengan 15 bagian air. Cukup disiramkan ke tanah, usahakan tidak menyiram batang tanaman. MOL cocok untuk tanaman yang tumbuh di tanah saja.

Minggu, 11 Desember 2011

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI FUNGI

Di pihak lain kenyataan menunjukkan bahwa 80 – 85 % kayu Indonesia mempunyai keawetan yang rendah (kelas III – IV). Dengan kata lain sebagian besar jenis kayu tersebut mudah terserang berbagai jenis organisme perusak kayu. Kenyataan ini ditunjang pula oleh letak geogarfis Indonesia di khatulistiwa dengan iklim tropisnya yang memungkinkan hadirnya berbagai jenis organisme perusak kayu seperti rayap, bubuk kayu kering, jamur pelapuk. Dengan demikian dapat dimengerti mengapa ancaman kerusakan kayu di Indonesia sangan besar.
Kayu merupakan bahan alami yang serba guna didukung oleh banyak keunggulan komparatif dibanding bahan lainnya (metal, semen, plastik, dsb). Di sisi lain kayu juga memiliki berbagai kelemahan, salah satu yang sangat penting di antaranya adalah kayu dapat terdegradasi oleh faktor biologis (jamur, rayap, kumbang, penggerek laut, dsb.). Deteriorasi kayu oleh faktor biologis (khususnya jamur) telah menimbulkan kerugian yang sangat besar dan pemborosan pemanfaatan sumber daya alam/ hutan. Pengendalian deteriorasi kayu ini akan meningkatakan efisiensi pengolahan dan pemanfaatannya serta menekan konsumsi kayu dari hutan yang kini angka deforestasi di Indonesia demikian tinggi (Priadi, 2005).
Wilayah Indonesia merupakan wilayah yang cocok untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroorganisme seperti bakteri dan jamur. Bakteri dan jamur merupakan tumbuhan tingkat rendah, dimana dalam kehidupannnya akan selalu menjadi parasit dan atau saprofit bagi organisme/benda lain. Jamur merupakan salah satu mikroorganisme yang tidak memiliki klorofil sehingga dalam mempertahankan hidupnya akan mengambil energi serta bahan-bahan organik yang dihasilkan oleh tumbuhan hijau baik yang masih hidup ataupun yang sudah mati (Iswanto, 2009).
Tidak ada alasan untuk dapat menghindari terjadinya proses kemunduran kayu dalam suatu bangunan dimana penyebab-penyebabnya dapat diatasi atau dikendalikan. Kayu yang digunakan diluar atap berhubungan langsung dengan tanah atau air laut akhirnya akan membusuk atau diserang oleh pengebor-pengebor laut atau serangga. Tetapi umur pakainya dapat sangat diperpanjang dengan perlakuan tepat. Untuk menghindari kemunduran dalam bangunan-bangunan atau untuk memperpanjang umur bahan-bahan kayu yang digunakan dibawah kondisi-kondisi yang berat, mereka yang menggunakan produk-produk kayu harus memahami kondisi-kondisi yang dapat berkembangnya kemunduran dan tindakan pencegahan yang harus diambil (Samosir, 2009).
Agen-agen biologis adalah penyebab utama kerusakan kayu, akibat dari cendawan yang menyebabkan noda, pelunakan dan pembusukan; pengebor-pengebor laut, terutama cacing-cacing laut dan kerang-kerang laut kecil; serangga termasuk rayap, semut kayu; berbagai kumbang pengebor kayu; dan bekteri yang menyebabkan pelapukan pada kayu yang apabila lama terendam oleh air (Samosir, 2009).
Sebenarnya kerugian akibat serangan jamur setiap tahunnya sangat besar, namun masih jarang dilakukan penelitian-penelitian maupun publikasi-publikasi untuk mengetahui seberapa besar kerugian yang terjadi akibat serangan jamur. sebagian contoh di Amerika Serikat kerugian akibat pelapukan bangunan diduga lebih dari 200 juta dolar per-tahun.

Deskripsi Jamur
Jamur merupakan tumbuhan tingkat rendah yang tidak mempunyai zat hijau (chlorophyl). Untuk hidupnya mereka berperan sebagai parasit atau saprofit (Tambunan dan Nandika, 1989), yang tidak dapat menghasilkan makanannya sendiri (Hunt dan Garrat, 1986).
Jamur merupakan organisme eukariota yang digolongkan kedalam kelompok cendawan sejati. Dinding sel jamur terdiri atas kitin, sel jamur tidak mengandung klorofil. Jamur mendapatkan makanan secara heterotrof dengan mengambil makanan dari bahan organik. Bahan organik disekitar tempat tumbuhnya diubah menjadi molekul-molekul sederhana dan diserap langsung oleh hifa, jadi jamur tidak seperti organisme heterotrof lainnya yang menelan makanannya kemudian mencernanya sebelum diserap (Gunawan, 2000).
Mikroorganisme ini dapat dibedakan dalam empat golongan tergantung pada sifat perkembangan didalam dan pada kayu, dan tipe kerusakan yang ditimbulkan olehnya. Hunt dan Garrat (1986) menyatakan golongan-golongan tersebut adalah cendawan perusak kayu, pewarna kayu, cendawan buluk dan bakteri penyerang kayu.

Jamur Sebagai Jasad Renik
Jasad renik merupakan salah satu faktor yang banyak menimbulkan kerusakan pada kayu. Jasad renik tersebut terdiri dari jamur dan bakteri, dimana bagian vegetatifnya secara individu hanya dapat dilihat dengan jelas dibawah mikroskop karena ukurannya sangat kecil. Jasad renik adalah sejenis tumbuhan tingkat rendah yang tidak mengandung klorofil, oleh karena itu mereka mempertahankan hidupnya dengan energi dan bahan organik yang dihasilkan oleh tumbuhan hijau. Dengan demikian kayu sebagai produk terbesar dari tumbuhan hijau merupakan sumber makanan bagi berbagai jenis jamur dan bakteri. Berdasarkan medium tempat jasad renik itu berkembang dan sifatnya yang saprofit dan parasit, jasad renik berbeda dengan tanaman hijau (Tambunan dan Nandika, 1989).
Ciri-ciri Jamur
Jamur atau fungi merupakan tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof, tipe sel eukarotik. Jamur ada yang uniseluler dan multiseluler. Tubuhnya terdiri dari benang-benang yang disebut hifa, hifa dapat membentuk anyaman bercabang-cabang yang disebut miselium. Jamur pada umumnya multiseluler (bersel banyak). Ciri-ciri jamur berbeda dengan organisme lainnya dalam hal cara makan, struktur tubuh, pertumbuhan, dan reproduksinya (Gandjar dkk, 1999).
Struktur Tubuh Fungi/Jamur
Struktur tubuh jamur tergantung pada jenisnya. Ada jamur yang satu sel, misalnya khamir, ada pula jamur yang multiseluler membentuk tubuh buah besar yang ukurannya mencapai satu meter, contohnya jamur kayu. Tubuh jamur tersusun dari komponen dasar yang disebut hifa. Hifa membentuk jaringan yang disebut miselium. Miselium menyusun jalinan-jalinan semu menjadi tubuh buah (Tapa, 2004).
Morfologi Fungi
Bagian vegetatif pada jamur umumnya berupa benang-benang halus memanjang, bersekat (septa) atau tidak, dinamakn dengan hifa. Kumpulan-kumpulan benang-benang hifat tersebut dinamakan dengan miselium. Miselium dapaat dibedakan menjadi dua tipe pokok. Yang pertama mempunyai hifa senositik (coenocytic), yaitu hifa yang mempunyai banyak inti dan tidak mempunyai sekat melintang, jadi hifa ini berbentuk tabung halus yang mengandung protoplas dengan banyak inti. Pembelahan intinya tidak diikuti oleh pembelahan sel. Yang kedua mempunyai hifa seluler (celluler), hifa terdiri dari sel-sel, yang masing-masing mempunyai sat atau dua inti (Semangun, 1996).
Habitat Jamur/Fungi
Semua jenis jamur bersifat heterotrof. Namun, berbeda dengan organisme lainnya, jamur tidak memangsa dan mencernakan makanan. Untuk memperoleh makanan, jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya, kemudian menyimpannya dalam bentuk glikogen. Oleh karena jamur merupakan konsumen maka jamur bergantung pada substrat yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. Semua zat itu diperoleh dari lingkungannya. Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit fakultatif, atau saprofit (Saragih, 2008).
Hifa
Hifa dapat dibedakan atas dua tipe hifa yang fungsinya berbeda, yaitu yang menyerap unsur hara dari substrat dan yang menyangga alat-alat reproduksi. Hifa umumnya rebah pada permukaan substrat atau tumbuh pada ke dalam substrat dan fungsinya untuk mengabsorbsi unsur hara yang diperlukan bagi kehidupan fungi disebut hifa vegetatif. Hifa yang umumnya tegak pada miselium yang terdapat di permukaan substrat yang disebut hifa fertil, karena berperan untuk reproduksi. Hifat-hifat yang telah menjalin suatu jaringan miselium makin lama makin tebal dan membentuk suatu koloni yang dapat dilihat mata telanjang (Semangun, 1996).
Hifa adalah struktur menyerupai benang yang tersusun dari dinding berbentuk pipa. Dinding ini menyelubungi membran plasma dan sitoplasma hifa. Sitoplasmanya mengandung organel eukariotik. Kebanyakan hifa dibatasi oleh dinding melintang atau septa. Septa mempunyai pori besar yang cukup untuk dilewati ribosom, mitokondria, dan kadangkala inti sel yang mengalir dari sel ke sel. Akan tetapi, adapula hifa yang tidak bersepta atau hifa senositik.
Struktur hifa senositik dihasilkan oleh pembelahan inti sel berkali-kali yang tidak diikuti dengan pembelahan sitoplasma. Hifa pada jamur yang bersifat parasit biasanya mengalami modifikasi menjadi haustoria yang merupakan organ penyerap makanan dari substrat; haustoria dapat menembus jaringan substrat.
Jenis-jenis Jamur
Jamur Trametes versicolor
Klasifikasi jamur jenis ini adalah sebagai berikut:
Kingdom : Fungi
Divisio : Basidiomycota
Class : Hymenomycetes
Ordo : Aphyllophorales
Family : Polyporaceae
Genus : Trametes
Spesies : Trametes versicolor
Adapun ciri-ciri jamur jenis ini adalah sebagai berikut:
  1. Warna coklat keputih-putihan hingga putih kekuningan dengan tepi bergerigi
  2. Permukaan badan buah jamur berbulu
  3. Jamur tidak memiliki tangkai, langsung melekat pada kayu
  4. Teksturnya menyerupai kulit
  5. Pada badan jamur terlihat zonasi pertumbuhan jamur
  6. Bentuk basidiokarpa/badan buah seperti ekor kalkun yang sedang mengeliat.
Wood dan Stevens (1996) mengemukakan bahwa pori jamur ini memiliki ukuran 4-6 x 1,5-2,5 um, berbentuk silindrikal berliku yang ramping, permukaan halus, hyaline/hymeniumnya berwarna putih hingga kuning pucat dalam lapisannya. Berdasarkan bentuk penyerangnya, trametes versicolor termasuk kedalam jenis jamur White rot. Jamur ini merombak lignin dan sebagian selulosa. Kayu yang diserang akan berwarna putih.
Jamur Ganoderma applanatum
Klasifikasi jamur jenis ini adalah sebagai berikut:
Kingdom : Fungi
Divisio : Basidiomycota
Class : Basidiomycetes
Ordo : Polyporales
Family : Ganodermataceae
Genus : Ganoderma
Species : Ganoderma applanatum
Adapun ciri-ciri jenis ini adalah sebagai berikut:
  1. Berwarna putih, dengan cepat berubah menjadi coklat apabila dilukai. Memudar menjadi pucat kekuning-kuningan ketika basah.
  2. Bdan buah 9basidiokarpa) jamur keras dan kaku
  3. Basidiokarpa tersebar rata pada substratum
  4. Sporanya tidak terlihat sebagaimana jamur pada umumnya, namun jika ditepukkan maka sporanya akan jatuh.
  5. Jamur tidak memiliki tangkai, langsung melekat pada kayu.
Ganoderma applanatum termasuk kedalam kalsifikasi jamur perusak kayu kelompok Brown rot. Jamur ini merupakan jamur tingakt inggi dari kelas Basidiomycetes yaitu golongan jamur yang meneyrang holoselulosa kayu dan meninggalkan residu kecoklat-coklatan yang kaya akan lignin (Tambunan dan Nandika, 1989).
Faktor yang Mempergaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Jamur
Menurut Tambunan dan Nandika (1989), ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan jamur antara lain:
  1. Temperatur
Jamur perusak kayu dapat berkembang pada interval suhu yang cukup lebar, tetapi pada kondisi-kondisi alami perkembangan yang paling cepat terjadi selama periode-periode yang lebih panas dan lebih lembab dalam setiap tahun. Suhu optimum berbeda-beda untuk setiap jenis, tetapi pada umumnya berkisar antara 220C sampai 350C. Suhu maksimumnya berkisar antara 270C sampai 390C dengan suhu minimum kurang lebih 50C.
  1. Oksigen
Oksigen sangat dibutuhkan oleh jamur untuk melakukan respirasi yang menghasilkan CO2 dan H2O. sebaliknya untuk pertumbuhan yang optimum, oksigen harus diambil secara bebas dari udara. Tanpa adanya oksigen, tidak ada jamur yang dapat hidup.
  1. Kelembaban
Kebutuhan jamur akan kelembaban berbeda-beda, namun hampir semua jenis jamur dapat hidup pada substrat yang belum jenuh air. Kadar air subtrat yang rendah sering menjadi faktor pembatas bagi pertumbuhan jamur. hal ini terutama berlaku bagi jenis jamur yang hidup pada kayu atau tanah. Kayu dengan kadar air kurang dari 20% umumnya tidak terserang jamur perusak, sebaliknya kayu dengan kadar air 35-50% sangat disukai oleh jamur perusak.
  1. Konsentrasi hidrogen (pH)
Pada umumnya jamur akan tumbuh dengan baik pada pH kurang dari 7 (dalam suasana asam sampai netral). Pertumbuhan yang optimumakan dicapai pada pH 4,5 sampai 5,5.
  1. Bahan makanan (nutrisi)
Jamur memerlukan makanan dari zat-zat yang terkandung dalam kayu seperti selulosa, hemiselulosa, lignin dan zat-zat isi sel lainnya. Selulosa, hemiselulosa dan lignin yang menyusun kayu terdapat sebagai makromolekul yang terlalu besar dan tidak larut dalam air untuk diasimilasi langsung oleh cendawan.
Menurut Gandjar et al., (2006), secara umum pertumbuhan fungi dipengaruhi oleh substrat, kelembaban, suhu, derajat keasaman substrat (pH), dan senyawa kimia dilingkungannya.
Pengaruh Serangan Jamur
Pengaruh serangan jamur terhadap sifat-sifat kayu secara umum adalah:
  1. Pengaruh berat, hilangnya sebagian selulosa dan lignin karena dirombak oleh jamur. Bila persentase penyerangan jamur ini tinggi, maka kayu menjadi semakin ringan.
  2. Pengaruh kekuatan, kayu yang diserang jamur akan mempengaruhi sifat keteguhan pukul, keteguhan lengkung, keteguhan tekan, kekerasan serta elastisitasnya dan mengakibatkan kekuatan kayu akan berkurang.
  3. Peningkatan kadar air, kayu yang lapuk akan menyerap air lebih banyak dari pada kayu yang segar sehat.
  4. Penurunan kalori, nilai kalori ada hubungannya dengan intesitas serangan. Apabila intensitas pelapukan semakin tinggi maka nilai kalori semakin kecil, sebab kayu yang lapuk memberikan panas yang lebih kecil dari pada kayu yang sehat.
  5. Perubahan warna, white-rot menimbulkan warna putih, brown-rot menimbulkan warna coklat, sedangkan blue-stain menimbulkan warna hitam kebiru-biruan.
  6. Perubahan bau, umunya kayu lapuk baunya berbeda dengan kayu yang sehat. Kayu lapuk baunya sangat tidak menyenangkan bagi pencium
  7. Perubahan struktur mikroskopis, white-rot menyebabkan dinding sel kayu makin lama- makin tipis dan akhirnya habis. Brown-rot menyerang selulosa kayu. Soft-rot hanya menyerang diding sekunder dan bila dilihat dengan mikroskop polarisasi maka terlihat lubang-lubang spiral yang memanjang.
(Damanik, 2003).
Ciri luar yang membedakan fungi adalah bentuk vegetatif yang berupa benang (filamen). Miselia mempunyai tenunan yang sederhana dan terbatas ataupun bercabang-cabang yang ukurannya sangat menarik perhatian. Sering terjadi pembentukan spora khusus atau badan buah yang bagi beberapa golongan berukuran makroskopis sederhana dari fungi payung dan fungi penumpu, yang berukuran luar biasa.
Kayu
Kayu sebagai bahan biologis tidak terdegradasi atau rusak karena pengaruh waktu tetapi karena faktor eksternal. Berbagai macam faktor eksternal yang terdiri atas tumbuhan (bakteri, jamur), binatang (serangga, binatang laut), iklim, mekanis, kimia, panas, dapat menyebabkan degradasi dari penampakan, struktur, ataupun komposisi kimia kayu (Tsoumis, 1991).
Inokulasi
Inokulasi adalah terjadinya kontak antara patogen tumbuhan. Patogen-patogen yang sampai dan menyebabkan terjadinya kontak dengan tumbuhan disebut inokulum. Inokulum adalah bagian patogen yang dapat memulai infeksi. Interval waktu antara inokulasi dengan munculnya gejala penyakit disebut periode inkubasi. Lama periode inkubasi berbagai penyakit bervariasi, khususnya dengan kombinasi inang-patogen, dengan tingkat perkembangan inang, dan dengan suhu lingkungan tumbuhan yang terinfeksi. Pada fungi inokulum dapat berupa spora, sklerotium atau bagian-bagian miselium (Yunasfi, 2008).
Penetrasi
Patogen mempenetrasi permukaan tumbuhan secara langsung melalui lubang-lubang alami, atau melalui luka. Fungi ada yang dapat melakukan penetrasi dengan satu cara dan ada yang dua cara. Proses penetrasi ini dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :
a. Penetrasi langsung melalui permukaan yang utuh, menggunakan apresorium.
b. Penetrasi melalui luka
c. Penetrasi melalui lubang-lubang alami, banyak fungi dan bakteri masuk ke dalam tumbuhan melalui stomata, hidatoda, nektartoda dan lentisel
(Yunasfi, 2008).
Infeksi
Infeksi adalah proses saat patogen melakukan kontak dengan sel atau jaringan tumbuhan yang rentan dan mendapatkan makanan dan tumbuhan tersebut. Infeksi yang berhasil akan mengakibatkan timbulnya bagian yang berubah warna, berubah bentuk, atau nekrosis pada tumbuhan inang yang disebut gejala, dan ada yang tidak menghasilkan gejala yang disebut laten dan gejala ini akan kelihatan pada waktu berikutnya di saat kondisi lingkungan lebih menguntungkan (Yunasfi, 2008).

DETERIORASI OLEH BAKTERI


Indonesia diketahui mempunyai sekitar 120,35 juta ha hutan tropis, yang paling besar nomor dua di dunia yang meliputi sekitar sepuluh persen hutan tropis dunia. Indonesia juga dikenal sebagai negara biodiversity. Indonesia mempunyai tidak kurang dari 4000 jenis kayu yang terbesar disepanjang hutan, namun dari jumlah itu tidak lebih dari 200 jenis kayu telah dikenal secara komersial diperdagangkan selama ini.
            Saat ini sudah dirasakan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya bahwa harga kayu semakin mahal. Kenaikan harga kayu atau produk olahan kayu mungkin dirasakan sebagai suatu yang wajar karena banyak faktor yang terlibat yang mendukung meningkatnya harga produk tersebut. Walaupun hal tersebut dapat diterima, tetapi dapat dimengerti pula bahwa pasokan kayu memang semakin menurun karena jenis kayu komersial produksi hutan alam semakin habis dan belum dapat diganti sepenuhnya dengan hutan produksi hutan tanaman. Akibatnya pasokan kayu akan berubah dari jenis komersial ke jenis non komersial atau jenis kayu tak dikenal (Lesser know spesies) produksi hutan alam atau hutan sekunder serta jenis kayu yang ditanam oleh rakyat sebagai produk hutan rakyat.
            Di pihak lain kenyataan menunjukkan bahwa 80 – 85 % kayu Indonesia mempunyai keawetan yang rendah (kelas III – IV). Dengan kata lain sebagian besar jenis kayu tersebut mudah terserang berbagai jenis organisme perusak kayu.kenyataan ini ditunjang pula oleh letak geogarfis Indonesia di khatulistiwa dengan iklim tropisnya yang memungkinkan hadirnya berbagai jenis organisme perusak kayu seperti rayap, bubuk kayu kering, jamur pelapuk. Dengan demikian dapat dimengerti mengapa ancaman kerusakan kayu di Indonesia sangan besar.
            Tidak ada alasan untuk dapat menghindari terjadinya proses kemunduran kayu dalam suatu bangunan dimana penyebab-penyebabnya dapat diatasi atau dikendalikan. Kayu yang digunakan diluar atap berhubungan langsung dengan tanah atau air laut akhirnya akan membusuk atau diserang oleh pengebor-pengebor laut atau serangga. Tetapi umur pakainya dapat sangat diperpanjang dengan perlakuan tepat. Untuk menghindari kemunduran dalam bangunan-bangunan atau untuk memperpanjang umur bahan-bahan kayu yang digunakan dibawah kondisi-kondisi yang berat, mereka yang menggunakan produk-produk kayu harus memahami kondisi-kondisi yang dapat berkembangnya kemunduran dan tindakan pencegahan yang harus diambil.
            Agen-agen biologis adalah penyebab utama kerusakan kayu, akibat dari cendawan yang menyebabkan noda, pelunakan dan pembusukan; pengebor-pengebor laut, terutama cacing-cacing laut dan kerang-kerang laut kecil; serangga termasuk rayap, semut kayu; berbagai kumbang pengebor kayu; dan bekteri yang menyebabkan pelapukan pada kayu yang apabila lama terendam oleh air.

Deteriorasi Hasil Hutan
            Menurut Tarumingkeng, R, C (2000) Deteriorasi hasil hutan adalah semua proses dan akibat yang menyebabkan menurunnya kualitas dan kuantitas hasil hutan. Terjadinya deteriorsi hasil hutan diakibatkan oleh berbagai penyebab (causing agents), yaitu karena faktor-faktor biologis (hama, penyakit) dan faktor-faktor fisik. (Heygreen dan Bowyer, 1986) menambahkan deteriorasi merupakan penurunan umur pakai kayu yang diakibatkan oleh pembusukan, noda-noda cendawan, serangga-serangga, api dan pelapukan. Tidak ada alasan untuk dapat menghindari terjadinya proses kemunduran kayu dalam suatu bangunan dimana penyebabnya dapat dibatasi dan dikendalikan.

Bakteri
Bakteri adalah jenis tumbuhan tingkat rendah yang tidak berhijau daun. Oleh karena itu untuk hidupnya memerlukan bahan-bahan organik yang dihasilkan oleh tumbuhan hijau. Jasad renik ini mempunyai kemampuan khusus untuk berkembang pada liungkungan yang kurang oksigen. Beberapa jenis diantaranya bahkan dapat hidup secara anaerobik. Knuht (1969) dalam penelitiannya terhadap bahan-bahan dari kayu, telah menemukan 198 jenis bakteri pada berbagai jenis kayu. Diantaranya dari genus Bacillus, Aerobacter, dan pseudomonas yang biasanya hidup didalam tanah dan air (Tambunan dan Nandika, 1989). Nicholas (1987) menyatakan bakteri ini masuk kedalam kayu bagian dalam dengan jalan menembus sel yang satu ke sel yang lainnya melalui noktah sel, setelah penghancuran membran sel.

Penetrasi Oleh Bakteri
            Patogen mempenetrasi permukaan tumbuhan secara langsung melalui    lubanglubang alami, atau melalui luka. Bakteri umumnya masuk melalui luka, jarang melalui lubang alami dan tidak pernah secara langsung. Adapun virus dapat masuk melalui luka yang dibuat vektornya dan juga melalui luka-luka mekanik yang disebabkan oleh alat-alat pertanian.
        Proses penetrasi ini dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :
  1. Penetrasi melalui luka, seperti semua bakteri
  2. Penetrasi melalui lubang-lubang alami, masuk melalui stomata, hidatoda, nektartoda dan lenti sel.
(Yunasfi, 2008).

Serangan Bakteri (Invasi)
Serangan bakteri terhadap kayu biasanya terjadi bersama-sama dengan jamur (Tambunan dan Nandika, 1989). Hunt dan Garrat (1986) menyatakan kedua jenis jasad renik tersebut kemungkinan bekerjasama dalam penghancuran kayu secara biologis. Bakteri mempunyai kemampuan dalam merusak selulosa kayu dan juga mampu merusak jaringan-jaringan berlignin jika kondisi lingkunagan memungkinkan. Kayu yang diserang oleh bakteri akan banyak menyerap air dan kekuatan kayu akan berkurang. Pada prinsipnya serangan bakteri menyebabkan daya ahorsi pada kayu menjadi tidak normal karena rusaknya membran noktah dari sel-sel (Tambunan dan Nandika, 1989).
            Bakteri dapat menyerang kayu yang terendam dalam air (termasuk air laut) dan terkubur dalam tanah karena bersifat anaerob. Aktivitas bakteri dapat ditunjukkan melalui lubang atau kerusakan pada membran pit sapwood (gubal), erosi pada dinding sel, dan konsumsi isi sel parenkim, yang ditandai dengan peningkatan permeabilitas kayu (7-10 kali), pengurangan kekuatan (keuletan, tekan, lengkung), pelunturan warna, pelunakan permukaan, dan penyusutan (Nuryawan,2008).           
            Infeksi patogen yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada lubang stomata yang dapat mempengaruhi laju asimilasi, karena terhambatnya laju aliran CO 2 . Adanya perubahan dalam fiksasi CO 2 akan menyebabkan terjadinya perubahan dalam aktivitas enzim-enzim yang berperanan dalam proses fotosintesis dan menyebabkan terjadinya perubahan dalam metabolisme akumulasi asam amino dan asam organik dalam pelepasan gula dan gula posfat (Yunasfi, 2008).

Air
            Air adalah substansi kimia dengan : satu molekul air tersusun atas dua atom hidrogen yang terkait secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) dan temperatur 273,15 K (0°C). Zat kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam,gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organik (Wikipedia, 2010).
            Keadaan air yang berbentuk cair merupakan suatu keadaan yang tidak umum dalam kondisi normal, terlebih lagi dengan memperhatikan hubungan antara hidrida-hidrida lain yang mirip dalam kolom oksigen pada tabel periodik, yang mengisyaratkan bahwa air seharusnya berbentuk gas, sebagaimana hidrogen sulfida (Wikipedia, 2010).

Kayu
       Kayu sebagai bahan biologis tidak terdegradasi atau rusak karena pengaruhwaktu tetapi karena faktor eksternal. Berbagai macam faktor eksternal yang terdiri atas tumbuhan (bakteri, jamur), binatang (serangga, binatang laut), iklim, mekanis, kimia, panas, dapat menyebabkan degradasi dari penampakan, struktur, ataupun komposisi kimia kayu (Tsoumis, 1991).

Pemencaran oleh Air       
            Air penting bagi penyebaran patogen dalam tiga hal; (1) Bakteri nematoda dan spora, sklerotium dan bagian miselium fungi yang terdapat dalam tanah disebarkan oleh air hujan atau air irigasi, (2) Bakteri dan spora banyak jenis fungi terlarut ke dalam larutan yang dapat melengket dan penyebarannya tergantung kepada air hujan dan air irigasi, (3) Butir-butir hujan yang jatuh atau air irigasi yang disemprot dari atas akan mengambil spora fungi dan bakteri yang terdapat di udara (Yunasfi, 2008).

PEMBUATAN PULP DENGAN BAHAN BAKU JERAMI MELALUI PROSES BASA


Perkembangan industri pulp di Indonesia berjalan dengan cepat, tetapi hal tersebut tidak diimbangi dengan pasokan bahan baku yang memadai. Saat ini, sebagian besar industri tersebut berjalan pada kapasitas terpasangnya bahan baku dari hutan alam yang semakin menipis dan mahal. Fakta tersebut diperkuat oleh pernyataan Lestari (2010) berdasarkan data statistik Kementerian Kehutanan Republik Indonesia 2009 yang mencatat bahwa laju kerusakan hutan Indonesia mencapai 1,08 ha/tahun. Maka untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu ada upaya konversi bahan baku kayu dengan memanfaatkan hasil hutan non kayu berlignoselulosa sebagai substitusinya.

Jerami merupakan limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pulping yang mudah di dapatkan dan merupakan energi yang terbarukan. Juga jerami dapat langsung digunakan sebagai bahan baku pembuatan kertas. Penggunaan jerami sebagai bahan baku kertas dapat digunakan setelah masa panen padi yaitu sekitar 2 bulan. Berbeda dengan kayu yang masa pertumbuhannya sampai tahunan, juga jika menggunakan bahan baku kayu maka akan menyebabkan berbagai kerugian antara lain bencana alam (Macklin, 2009).
Perkembangan pendidikan dunia yang semakin meningkat, akan berbanding lurus dengan konsusmsi kertas dunia. Kertas adalah bahan yang tipis dan rata, yang dihasilkan dengan kompresi serat yang berasal dari pulp. Serat yang digunakan biasanya adalah alami, dan mengandung selulosa dan hemiselulosa. Dengan demikian inilah yang menjadi latar belakang penulis melakukan praktikum yang berjudul Pembuatan Kertas dari Jerami Secara Proses Basa.

Jerami Padi (Oriza sativa)
Jerami adalah bagian vegetatif dari tanaman padi (batang, daun, tangkai malai). Ketiga unsur ini relatif kuat karena mengandung unsur silika, dan selulosa yang tinggi serta pelapukan yang memerlukan waktu yang relatif lama. Pada waktu tanaman dipanen, jerami adalah bagian tanaman yang tidak dipungut. Bobot jerami padi merupakan fungsi dari (a) rejim air, (b) varietas, nisbah/ gabah jerami, ( c ) cara budidaya, (d) kesuburan tanah, dan (e) musim, iklim, dan tinggi tempat (Makarim, 2007).

Natrium Hidroksida (NaOH)
Natrium hidroksida (NaOH) adalah suatu basa yang umum digunakan di laboratorium. Namun demikian, karena padatan natrium hidroksida sulit diperoleh dalam keadaan murni, larutan natrium hidroksida harus distandarisasi terlebih dahulu dalam kerja analitis yang memerlukan keakuratan. Kita dapat menstandarisasi lautan hidroksida dengan menitrasinya dengan menggunakan larutas asam yang sudah diketahui konsentrasinya secara tepat (Chang, 2003).
Natrium hidroksida (NaOH) sering disebut dengan kaustik soda atau soda api. NaOH merupakan senyawa alkali yang bersifat basa dan mampu menetralisir asam. Bentuknya kristal putih dan cepat menyerap kelembaban (Hambali, et al., 2006).
Adapun beberapa sifat dari Natrium Hidroksida (Perry & Green, 1999) yaitu :
  • Berat Molekul : 40 gr/mol
  • Densitas : 1040 kg/m3
  • Titik lebur : 318,4 C
  • Titik Didih : 1390 C
  • Kelarutan dalam air : 111 g/100 ml (20 C)
  • Berupa Kristal putih
Pulp
Pulp adalah produk utama kayu, terutama digunakan untuk pembuatan kertas, tetapi pulp juga diproses menjadi berbagai turunan selulosa, seperti rayon dan selofan. Pulp sering juga disebut hasil pemisahan serat dari bahan baku berserat (kayu maupun non kayu) melalui berbagai proses pembuatannya (mekanis, semikimia, kimia). Tujuan utama pembuatan pulp kayu adalah untuk melepaskan serat-serat yang dapat dikerjakan secara kimia, atau secara mekanik atau dengan kombinasi keduanya. Prinsip pembuatan pulp secara mekanis yakni dengan pengikisan dengan menggunakan alat seperti grinda. Proses mekanis yang biasa dikenal diantaranya PGW (Pine Groundwood), SGW (Semi Groundwood). Proses semi kimia merupakan kombinasi antara mekanis dan kimia. Yang termasuk ke dalam proses ini diantaranya CTMP (Chemi Thermo Mechanical Pulping) , NSSC (Neutral Sulfite Semichemical). Sedangkan yang termasuk proses kimia yaitu proses kraft yang merupakan bagian proses basa dan proses sulfit yang termasuk proses asam. Dimana proses kraft ini pertama sekali dikenal di Swedia pada tahun 1885. Disebut kraft karena pulp yang dihasilkan dari proses ini memiliki kekuatan lebih tinggi dari pada proses mekanis dan semikimia, akan tetapi rendemen yang dihasilkan lebih kecil diantara keduanya karena komponen yang terdegradasi lebih banyak (lignin, ekstraktif dan mineral) (wikipedia, 2009).

Pulping
Pulping adalah hasil pemisahan serat dari bahan baku berserat (kayu maupun non kayu)melalui berbagai proses pembuatannya (mekanis, semikimia, kimia).Pulp terdiri dari serat – serat (selulosa dan hemiselulosa) sebagai bahan baku kertas .Proses pembuatan pulp diantaranya dilakukan dengan proses mekanis , kimia , dan semikimia. Prinsip pembuatan pulp secara mekanis yakni dengan pengikisan dengan menggunakan alat seperti gerinda. Proses mekanis yang biasa dikenal diantaranya PGW (Pine Groundwood), SGW (Semi Groundwood). Proses semi kimia merupakan kombinasi antara mekanis dan kimia. Yang termasuk ke dalam proses ini diantaranya CTMP (Chemi Thermo Mechanical Pulping) dengan memanfaatkan suhu untuk mendegradasi lignin sehingga diperoleh pulp yang memiliki rendemen yang lebih rendah dengan kualitas yang lebih baik daripada pulp dengan proses mekanis (Macklin, 2009).

Selulosa
Adapun faktor yang membuat selulosa disenangi untuk produksi pulp dan
kertas adalah (Murugan, 1996) :
  1. Jumlahnya berlimpah, dapat melengkapi, dan mudah dipanen dan dipindah-pindahkan dan akibatnya bahan ini murah harganya.
  2. Zat ini umumnya berbentuk serat, dan kekuatan tariknya benar-benar tinggi.
  3. Zat ini bisa menarik air, yang mempermudah persiapan mekanik dari serat-serat atau ikatan-ikatan serat ketika campuaran serat tadi dikeringkan
  4. Zat ini tidak dapat larut dalam air dan pelarut-pelarut organik
  5. Tahan terhadap sejumlah bahan kimia yang menyebabkan dapat diisolasi dan dimurnikan dari kayu yang merupakan sumber utama selulosa.

Kertas

Kertas merupakan alat dokumentasi, komunikasi, administrasi, dan transaksi yang sampai saat ini tetap menjadi pilihan utama. Pengguna kertas hamper di setiap kota besar, yang memiliki kegiatan atau lalu lintas perekonomian tinggi. Di kota- kota tersebut terdapat sejumlah besar pertokoan, perkantoran, lembaga baik profit maupun non profit, sekolah, Perguruan Tinggi dan sebagainya. Semua komponen tersebut adalah pengguna kertas yang tinggi (Maulana, ____)

Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah parang, talenan, hot plate, gelas ukur 1000 ml, spatula kaca, aluminium foil, saringan, kertas saring, cawan petri, oven, blender dan plastik berbentuk lingkaran.
Bahan yang digunakan adalah 100 g jerami dengan panjang + 1 cm, NaOH (natrium hidroksida), tepung kanji dan H2O (air).

Prosedur
Proses pulping (pembuburan)
  1. Disiapkan + 100 g bahan baku (jerami kering)
  2. Dipotong jerami dengan panjang + 1 cm
  3. Disiapkan larutan NaOH 1 L sebanyak 6 %
  4. Dimasak selama 3–4 jam sehingga menjadi bubur
Pengujian kadar air pulp
  1. Diambil 2 g jerami kering yang telah dipulping dan dimasukkan dalam cawan petri
  2. Dioven pada suhu 103 + 2 0C sampai beratnya konstan sebanyak 5 kali ulangan
  3. Dihitung kadar airnya
Pembuatan lembaran
  1. Ditimbang pulp sebanyak 3 g
  2. Ditambahkan tepung kanji dengan perbandingan 1:1, 1:2 antara jerami dengan kanji sebanyak 5 kali ulangan
  3. Diaduk dan ditambahkan air secukupnya
  4. Diblender sampai halus
  5. Dibuat lembaran kertas di atas plastik berbentuklingkaran
  6. Dikeringkan sampai kertas bisa diambil dari plastik

CARA MEMBUAT POTATOES DEXTROES AGAR (PDA)


Bahan:

1. 200 g kentang
2. 1000 ml air
3. 15 g agar-agar powder
4. 15 gram dextros, kalau tidak ada boleh digantikan gula
Bahan penunjang:
1. Kertas saring
2. Aluminium foil
3. kapas
4. Alkohol
5. Masker
6. Sarung tangan
Alat:
1. Pisau
2. Timbangan
3. Sendok pengaduk/spatula
4. Hot plate/ kompor
5. Kompor gas
6. Gelas ukur
7. Erlenmeyer
8. Autoclave
9. Corong kaca
Tips pengerjaan:
1. Sebelum mengerjakan kenakan sarung tangan dan masker
2. Bersihkan alat yang akan digunakan hingga bersih
3. Jangan berbicara dalam melakukan kegiatan ini
4. Gunakan alkohol dengan cara menyemprot kebagian yang akan berkenaan dengan  bahan
5. Gunakan perbandingan yang tepat
Prosedur:
1. Dikupas kentang hingga bersih, kemudian dicuci dengan air bersih
2. Dipotong kentang dengan ukuran sekitar 1 cm x 1 cm
3. Dimasukkan kedalam gelas ukur, dan ditambahkan 500 ml air (aquades)
4. Diaduk hingga matang
5. Disaring dengan menggunakan kertas saring
6. Ditambahkan 15 g agar powder dan 15 g gula pasir ke dalam larutan tersebut
7. Ditambahkan air hingga volume 1000 ml
8. Dimasak hingga mendidih
9. Pindahkan kedalam erlenmeyer
10. PDA siap digunakan

PEMURNIAN MEDIA PDA




Alat:
1. Cawan petri

Bahan:
1. Media PDA

Prosedur:
1. Diletakkan jamur pada media PDA
2. Ditutup dan dibiarkan selama 24 jam
3. Diamati perkembangan jamurnya selama 14 hari
4. Diukur pertumbuhan jamur
5. Diamati pertumbuhan jamurnya]
6. Diameter pertumbuhan jamur diukur setiap hari hingga hari keempat belas
7. Diamati perubahan warnanya
8. Dilakukan dokumentasi

Pengamatan mikroskopis
Alat:
1. Mikroskop
2. Pingset
Bahan:
1. Jamur
Prosedur
1. Dipindahkan fungi yang telah muncul pada media PDA yang berukuran 3 x 3 mm atau 4 x 4 mm, kedalam objek glass sebanyak 3 atau 5 buah
2. Ditutup fungi yang telah dipindahkan tersebut dengan penutup objek glass
3. Diletakkan objek glass kedalam sebuah kotak dan diberikan pelembab yang dapat berupa kapas basah atau tisu basah
4. Dibiarkan kotak tersebut selama 5 - 6 hari, dan agar pada objek glass dibuang
5. Diamati fungi dan diidentifikasi fungi pada mikroskop yang menyangkut bentuk warna dan jenis fungi yang tumbuh.

Jumat, 09 Desember 2011

KOREKSI GEOMETRIS PADA CITRA LANDSAT TM 7

Penginderaan jauh mempunyai keunggulan dibanding dengan survai terrestrial secara langsung. Dari penginderaan jauh dapat dihemat baik biaya, tenaga maupun waktu karena beberapa parameter dari data dapat disadap secara langsung dari citra. Dari penginderaan jauh didapat pula kemudahan pengambilan sampel di lapangan untuk data-data yang belum dapat disadap oleh citra, yaitu dengan cara melihat gambaran wilayah secara umum daerah cakupan citra dan membuat zona-zona tertentu yang mempunyai karakteristik yang sama. Teknologi penginderaan jauh mempunyai peranan yang penting dalam hal ini. Pada dasarnya, teknologi berbasis satelit ini menyajikan informasi awal kondisi wilayah. Keunggulan utamanya adalah menyajikan informasi aktual dan akurat tanpa adanya kontak langsung dengan obyek. Data satelit punya keunggulan dibandingkan peta atau foto udara, karena bisa menyajikan informasi tentang karakteristik spektral obyek di permukaan bumi yang tidak dapat ditangkap oleh mata telanjang (Sutanto, 1994).
Aplikasi data-data Penginderaan jauh lebih banyak dilakukan untuk identifikasi, deteksi, inventarisasi dan atau pemantauan sumber daya alam dan lingkungan tetapi aspek ketelitian geometris sebagai akibat proses koreksi geometris dan resampling jarang disinggung. Demikian juga untuk citra Landsat TM dan citra Radarsat. Untuk melakukan koreksi geometris citra diperlukan adanya titik-titik kontrol tanah yang dapat diidentifikasi pada citra. Tetapi jumlah titik kontrol tanah yang dibutuhkan untuk koreksi geometris agar menghasilkan ketelitian yang tinggi belum diketahui, demikian juga dengan metode transformasi yang dapat menghasilkan kesalahan yang minimal belum diketahui.
Peta merupakan sumber data yang banyak digunakan untuk berbagai kepentingan. Pemerintah membutuhkan peta sebagai data dasar dalam pembuatan rencana kerja mereka berkaitan dengan kebijakan yang menyangkut wilayah mereka. Untuk saat ini, banyak sekali wilayah Indonesia yang terpencil serta pulau-pulau kecil yang belum terpetakan. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan suatu metode pengukuran yang dapat mengatasi masalah geografis salah satunya dengan memanfaatkan foto udara. Koreksi geometri dilakukan dengan menggunakan 3 metode yaitu polinomial linier, kuadratik, dan kubik. Metode resampling yang digunakan dalam proses pembuatan peta ortofoto adalah nearest neighbour.
Untuk meningkatkan resolusi spasial sebuah citra dapat dilakukan kombinasi antara citra beresolusi spasial rendah dengan citra beresolusi spasial tinggi. Citra kombinasi merupakan perpaduan antara dua citra yang memiliki resolusi spasial, spektral, radiometrik atau temporal yang berbeda. Dari hasil kombinasi citra tersebut didapatkan citra yang berubah resolusi spasialnya dari citra yang beresolusi spasial rendah menjadi sebuah citra yang beresolusi spasial tinggi. Sebelum pelaksanaan kombinasi, citra yang akan dipakai harus dilakukan koreksi geometri. Koreksi geometri citra merupakan proses pada tahap pra pengolahan yang memperbaiki sifat geometris citra. Setelah dilakukan koreksi geometri,dilanjutkan dengan kombinasi citra dengan bantuan sebuah
perangkat lunak khusus.
Setiap citra perlu dilakukan direktifikasi untuk mengkoreksi kesalahan geometri dalam proses pengambilan data, baik yang disebabkan oleh kelengkungan permukaan bumi dan pergerakan satelit, maupun kesalahan instrumen serta ketidakstabilan wahana, jika tidak dilakukan koreksi geometri maka tidak dapat dilakukan pengukuran panjang, keliling dan sebagainya (Lillesand, 1988).

Tujuan dari koreksi geometri adalah untuk memperbaiki distorsi geometrik dengan meletakkan elemen citra pada posisi planimetric (x dan y) yang seharusnya, sehingga citra mempunyai kenampakan yang lebih sesuai dengan keadaan sebenarnya di permukaan bumi sehingga dapat digunakan sebagai peta. Ada beberapa hal yang menyebabkan citra perlu dilakukan koreksi geometrik;
a. Citra hasil penginderaan jauh mengalami distorsi geometrik.
b. Citra hasil penginderaan jauh mengalami kesalahan digital number sebagai dampak dari gangguan atmosfir.
c. Banyaknya gangguan (noise) pada gambar seperti striping, bad line, line drop dan salt and paper yang dikarenakan keterbatasan pencitraan, seperti adanya gangguan signal digitazition ataupun kerusakan pada satelit.
(Arifin, 2008).
Menurut Helmi (2007) pemrosesan data digital citra Landsat TM meliputi perbaikan citra baik yang diakibatkan oleh sensor citra berupa kesalahan yang diakibatkan oleh gangguan atmosfer maupun kesalahan yang diakibatkan oleh kelengkungan bumi. Pemrosesan citra ini dilakukan dengan komputer yaitu meliputi koreksi radiometrik dan geometrik.
Uftori (2009) menyatakan bahwa koreksi radiometrik adalah koreksi pada citra dan kesalahan pada sensor yang diakibatkan oleh gangguan atmosfer. Gangguan ini mengakibatkan perubahan pada nilai piksel, karena akibat hamburan dan serapan radiasi gelombang elektromagnetik oleh atmosfer. Metode yang digunakan dalam koreksi radiometrik adalah penyesuaian histogram. Prinsip dasar dari metode ini adalah melihat nilai minimum dari masing-masing histogram yang dianggap sebagai nilai bias. Nilai yang telah terkoreksi adalah nilai asli dikurangi dengan nilai bias minimum.
Ada dua cara untuk melakukan koreksi geometri yang pertama adalah rektifikasi geometri. Rektifikasi geometri adalah mengubah aspek geometri pada citra dengan cara merujuk pada proyeksi peta yang baku, sehingga koordinat pada citra menjadi sama dengan koordinat pada peta yang digunakan sebagai data acuan. Proses yang digunakan dalam koreksi geometri dengan cara rektifikasi geometri adalah dengan transformasi koordinat dan resampling. Metode yang digunakan adalah dengan metode GCP (ground control point), yaitu membandingkan titik-titik kontrol pada citra dan titik-titik kontrol pada peta (Lindgren, 1985).
Helmi (2007) menyatakan bahwa pengambilan titik kontrol harus mewakili dan merata pada seluruh citra. untuk memudahkan dalam pengambilan titik kontrol, obyek yang dipilih sebagai titik kontrol adalah obyek yang mudah dikenali pada citra, seperti posisi jalan, sungai dan kenampakan obyek yang khas. Cara yang kedua adalah dengan registrasi citra yaitu dengan mendaftarkan koordinat citra yang belum terkoreksi dengan koordinat citra yang sudah terkoreksi yang mempunyai daerah yang sama, atau (map to map transformation).
Dalam koreksi geometrik, dilakukan koreksi pada masing-masing pixel pada citra yang sudah ada koordinatnya, oleh karena itu diperlukan GCP (Ground Control Point). GCP merupakan pasangan-pasangan titik pada citra awal (belum terkoreksi) dan referensi (peta, citra terkoreksi) untuk memperbaiki distorsi sistemik pada citra awal. Objek-objek yang dapat digunakan GCP adalah objek yang sama pada citra mentah maupun referensi. GCP idealnya diletakkan pada jalan, sungai, garis pantai, teluk, tanjung, atau kenampakan pada permukaan bumi lainnya yang dapat dikenali dengan kemungkinan perubahan yang relatif lambat/tetap (Arifin, 2008).
Penentuan titik GCP diusahan menyebar pada posisi terluar dari citra yang akan dilakukan koreksi geometri. Jumlah titik GCP minimal yang harus dibuat pada rektifikasi citra dengan metode polinomial orde 1 adalah 4 buah titik, jika pada orde 1 belum mendapatkan informasi, Maka dilajutkan pada orde 2, pada orde 2 titik GCP yang digunakan minimal 7 titik GCP. Penggunaan orde 1 dan dilajutkan ke orde 2, tergantung dari ketelitian koreksi geometrik (0.5 pixel), jika ketelitian yang diperoleh tidak 0.5 pixel, maka dipakai orde 2, nilai RMS yang ditoleran berkisar pada 0.5 - 0.9 (Uftori, 2009).

Kamis, 08 Desember 2011

Bambu sebagai bahan bangunan


BAMBU … merupakan bahan bangunan yang tahan lama, dimana selama ini lebih dihargai karena keindahan estetika dan kualitas tak tertandingi di bidang konstruksi.

12983324971075988846
Keuntungan menggunakan bambu
* Bambu adalah bahan ringan karena berbentuk lingkaran dan memiliki bagian berongga, itu juga membuat mudah untuk ditangani, transportasi dan penyimpanan, memungkinkan pembangunan struktur lebih cepat.
* Karena karakteristik fisik membuatnya menjadi bahan yang kuat namun elastis, banyak kehandalan bambu, anti-seismik yang tinggi, yang bisa melengkung tanpa pecah, juga dapat digunakan dalam semua jenis struktural.
* Bambu memiliki serat, yang memungkinkan dipotong melintang atau membujur menjadi potongan-potongan berbagai ukuran, dengan menggunakan alat yang sangat sederhana.
* Bambu memiliki nada yang sangat menarik dan kulitnya halus dan tidak memerlukan Scraping atau polishing.
* Batang bambu dapat dimanfaatkan secara penuh.
* Bahan bangunan bambu memungkinkan dipakai bersama dengan bahan kayu, logam dan lain-lain.
* Bambu sebagai bahan bangunan dengan harga terendah.

Tips menggunakan bambu untuk konstruksi
* Harus memiliki tenaga terlatih dalam pembuatan desain struktur sesuai untuk bangunan dengan bambu.
* Hal yang sangat penting: memilih bambu yang telah melalui proses pengawetan dan dipanen pada tingkat kematangan optimal.
* Jika perlu menyimpan bambu sebelum digunakan, penempatannya harus tepat sehingga materinya (bambu) mendapatkan ventilasi yang baik untuk mencegah kelembaban, sebaiknya ditempatkan secara vertikal.
* Tebal dinding dan diameter bambu adalah variabel sepanjang panjangnya, sehingga perlu untuk mengambil pertimbangan untuk penggunaan yang tepat dan lokasi bahan, memanfaatkan total.
* Tidak dianjurkan penempatan yang bambu terus-menerus kontak dengan tanah yang lembab, direkomendasikan penggunaan dasar beton, yang menyediakan platform terisolasi dari kelembaban.
* Hindari penggunaan paku, karena bambu jadi mudah terbelah.

Rabu, 07 Desember 2011

ANALITICAL HIERARCHY PROCESS

AHP (Analytical Hierarchy Process) digunakan untuk menyederhanakan pemikiran dalam memilih satu atau beberapa pilihan atau alternatif. Pertimbangan kualitatif dibutuhkan untuk memilih komponen yang lebih penting dan seberapa besar pentingnya dibandingkan komponenkomponen lainnya kali dikembangkan oleh Saaty (1994) seorang ahli matematika dari Universitas Pittsburg, Amerika Serikat.
Pengertian AHP adalah mengabstraksikan struktur suatu sistem untuk mempelajari hubungan fungsional antara komponen dan akibatnya pada sistem secara keseluruhan. Namun, pada dasarnya sistem ini dirancang untuk menghimpun secara rasional persepsi orang yang berhubungan sangat erat dengan permasalahan tertentu melalui suatu prosedur untuk sampai pada suatu skala preferensi di antara berbagai alternatif. Analisis ini yang ditujukan untuk membuat suatu model permasalahan yang tidak mempunyai struktur, biasanya ditetapkan untuk memecahkan masalah terukur (kuantitatif), masalah yang memerlukan pendapat (judgement) maupun situasi yang kompleks atau tidak terkerangka, pada situasi ketika data dan informasi statistik sangat minim atau tidak ada sama sekali. Jadi sistem ini hanya bersifat kualitatif yang didasari oleh persepsi, pengalaman ataupun intuisi (Saaty, 1994). Dalam menyelesaikan persoalan dengan AHP ada beberapa prinsip dasar yang harus dipahami, antara lain:
a. Dekomposisi. Setelah mendefinisikan permasalahan/persoalan, perlu dilakukan dekomposisi, yaitu memecah persoalan yang utuh menjadi unsur-unsurnya, sampai yang sekecil-kecilnya.
b. Comparative Judgement. Prinsip ini membuat penilaian tentang kepentingan relatif dua ele¬men pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan tingkatan di atasnya. Hasil penilaian ini lebih mudah disajikan dalam bentuk matriks Pairwise Comparison.
c. Synthesis of Priority. Dari setiap matriks pairwise comparison, vektor cirinya (eigen) adalah untuk mendapatkan prioritas lokal. Karena matriks pairwise comparison terdapat pada setiap tingkat, maka untuk mengetahui prioritas global harus dilakukan sintesis di antara prioritas lokal. Prose¬dur melakukan sintesis berbeda menurut bentuk hierarki.
d. d. Logical Consistency, yakni konsistensi yang memiliki dua makna. Pertama adalah bahwa obyek-obyek yang serupa dapat dikelompokkan sesuai keseragaman dan relevansinya. Kedua adalah tingkat hubungan antara obyek-obyek yang didasarkan pada kriteria tertentu.
Dalam AHP, penetapan prioritas kebijakan dilaku¬kan dengan menangkap secara rasional persepsi orang, kemudian mengkonversi faktor-faktor yang intangible (yang tidak terukur) ke dalam aturan yang biasa, se¬hingga dapat dibandingkan.
Identifikasi sistem, yaitu untuk mengidentifikasi permasalahan dan menentukan solusi yang di¬inginkan. Identifikasi sistem dilakukan dengan cara mempelajari referensi dan berdiskusi dengan para pakar yang memahami permasalahan, sehingga diperoleh konsep yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi.
Penyusunan struktur hierarki yang diawali dengan tujuan umum, dilanjutkan dengan sub¬tujuan, kriteria, dan kemungkinan alternatif-alternatif pada tingkatan kriteria yang paling bawah.
Perbandingan berpasangan, menggambarkan pengaruh relatif setiap elemen terhadap masing-masing tujuan atau kriteria yang setingkat di atasnya. Teknik perbandingan berpasangan yang digunakan dalam AHP berdasarkan judgement atau pendapat para responden yang dianggap sebagai keyperson. Mereka dapat terdiri atas: 1) pengambil keputusan, 2) para pakar, dan 3), orang yang terlibat dan memahami permasalahan yang dihadapi.

Metode AHP dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, seorang ahli matematika. Metode ini adalah sebuah kerangka untuk mengambil keputusan dengan efektif atas persoalan yang kompleks dengan menyederhanakan dan mempercepat proses pengambilan keputusan dengan memecahkan persoalan tersebut kedalam bagian-bagiannya, menata bagian atau variabel ini dalam suatu susunan hirarki, member nilai numerik pada pertimbangan subjektif tentang pentingnya tiap variabel dan mensintesis berbagai pertimbangan ini untuk menetapkan variabel yang mana yang memiliki prioritas paling tinggi dan bertindak untuk mempengaruhi hasil pada situasi tersebut.
Metode AHP ini membantu memecahkan persoalan yang kompleks dengan menstruktur suatu hirarki kriteria, pihak yang berkepentingan, hasil dan dengan menarik berbagai pertimbangan guna mengembangkan bobot atau prioritas. Metode ini juga menggabungkan kekuatan dari perasaan dan logika yang bersangkutan pada berbagai persoalan, lalu mensintesis berbagai pertimbangan yang beragam menjadi hasil yang cocok dengan perkiraan kita secara intuitif sebagaimana yang dipresentasikan pada pertimbangan yang telah dibuat. (Saaty, 1993).
Setelah persoalan didefinisikan maka perlu dilakukan decomposition, yaitu memecah persoalan yang utuh menjadi unsur-unsurnya. Jika ingin mendapatkan hasil yang akurat, pemecahan juga dilakukan terhadap unsur-unsurnya sehingga didapatkan beberapa tingkatan dari persoalan tadi. Karena alasan ini maka proses analisis ini dinamai hirarki (Hierarchy). Pembuatan hirarki tersebut tidak memerlukan pedoman yang pasti berapa banyak hirarki tersebut dibuat, tergantung dari pengambil keputusan-lah yang menentukan dengan memperhatikan keuntungan dan kerugian yang diperoleh jika keadaan tersebut diperinci lebih lanjut. Ada dua jenis hirarki, yaitu hirarki lengkap dan hirarki tidak lengkap. Dalam hirarki lengkap, semua elemen pada semua tingkat memiliki semua elemen yang ada pada tingkat berikutnya. Jika tidak demikian maka dinamakan hirarki tidak lengkap.
RC adalah nilai yang berasal dari tabel acak seperti Tabel 2. Jika CR < 0,1 maka nilai per¬bandingan berpasangan pada matriks kriteria yang diberikan konsisten. Jika CR > 01, maka nilai perbandingan berpasangan pada matriks kriteria yang diberikan tidak konsisten. Jika tidak konsisten, maka pengisian nilai-nilai pada matriks berpasangan baik dalam unsur kriteria maupun alternatif harus diulang. Beberapa ahli berpendapat jika jumlah revisi terlalu besar, sebaiknya responden tersebut dihilangkan. Jadi penggunaan revisi ini sangat terbatas mengingat akan terjadinya penyimpangan jawaban yang sebenarnya.
Metode AHP merupakan salah satu model untuk pengambilan keputusan yang dapat membantu kerangka berfikir manusia. Metode ini mula-mula dikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada tahun 70-an. Dasar berpikirnya metode AHP adalah proses membentuk skor secara numerik untuk menyusun rangking setiap alternatif keputusan berbasis pada bagaimana sebaiknya alternatif itu dicocokkan dengan kriteria pembuat keputusan.

ANALISA VEGETASI


Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Untuk suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan sampling, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili habitat tersebut. Dalam sampling ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu jumlah petak contoh, cara peletakan petak contoh dan teknik analisa vegetasi yang digunakan.
Prinsip penentuan ukuran petak adalah petak harus cukup besar agar individu jenis yang ada dalam contoh dapat mewakili komunitas, tetapi harus cukup kecil agar individu yang ada dapat dipisahkan, dihitung dan diukur tanpa duplikasi atau pengabaian. Karena titik berat analisa vegetasi terletak pada komposisi jenis dan jika kita tidak bisa menentukan luas petak contoh yang kita anggap dapat mewakili komunitas tersebut, maka dapat menggunakan teknik Kurva Spesies Area (KSA). Dengan menggunakan kurva ini, maka dapat ditetapkan : (1) luas minimum suatu petak yang dapat mewakili habitat yang akan diukur, (2) jumlah minimal petak ukur agar hasilnya mewakili keadaan tegakan atau panjang jalur yang mewakili jika menggunakan metode jalur.
Caranya adalah dengan mendaftarkan jenis-jenis yang terdapat pada petak kecil, kemudian petak tersebut diperbesar dua kali dan jenis-jenis yang ditemukan kembali didaftarkan. Pekerjaan berhenti sampai dimana penambahan luas petak tidak menyebabkan penambahan yang berarti pada banyaknya jenis. Luas minimun ini ditetapkan dengan dasar jika penambahan luas petak tidak menyebabkan kenaikan jumlah jenis lebih dari 5-10% (Oosting, 1958; Cain & Castro, 1959). Untuk luas petak awal tergantung surveyor, bisa menggunakan luas 1m x1m atau 2m x 2m atau 20m x 20m, karena yang penting adalah konsistensi luas petak berikutnya yang merupakan dua kali luas petak awal dan kemampuan pengerjaannya dilapangan. 
Jika sudah dapat ditentukan luas petak minimum, maka juga harus dapat ditentukan jumlah petak contoh keseluruhan. Hitungann sederhananya, tergantung kita menginginkan berapa luas total sampling yang kita inginkan. Sebagai contoh luas kawasan yang akan kita eksplorasi adalah 10 ha, ukuran petak contoh yang ditentukan 12m x 12m dan kita menginginkan intensitas sampling (IS) 5% (artinya, kita hanya akan mengukur 1% dari luas total 10 ha). Maka jumlah petak contoh yang harus kita gunakan adalah :
Dik : N = 10 ha
IS = 5% = 5% x 10ha = 0.5 ha
LPC = 12m x12m = 0.0144 ha
Ditanya : Jumlah petak contoh (n) ?
Jawab :
n = 0.5 ha / 0.0144 ha
n = 34.72
n = 35 petak
Hitungan diatas adalah perhitungan sederhana tanpa mempertimbangkan tingkat ketelitian dan tingkat error pada pengambilan sampling.
Cara peletakan petak contoh ada dua, yaitu cara acak (random sampling) dan cara sistematik (systematic sampling), random samping hanya mungkin digunakan jika vegetasi homogen, misalnya hutan tanaman atau padang rumput (artinya, kita bebas menempatkan petak contoh dimana saja, karena peluang menemukan jenis bebeda tiap petak contoh relatif kecil). Sedangkan untuk penelitian dianjurkan untuk menggunakan sistematik sampling, karena lebih mudah dalam pelaksanaannya dan data yang dihasilkan dapat bersifat representative. Bahkan dalam keadaan tertentu, dapat digunakan purposive sampling.
Jika berbicara mengenai vegetasi, kita tidak bisa terlepas dari komponen penyusun vegetasi itu sendiri dan komponen tersebutlah yang menjadi fokus dalam pengukuran vegetasi. Komponen tumbuh-tumbuhan penyusun suatu vegetasi umumnya terdiri dari :
1. Belukar (Shrub) : Tumbuhan yang memiliki kayu yang cukup besar, dan memiliki tangkai yang terbagi menjadi banyak subtangkai.
2. Epifit (Epiphyte) : Tumbuhan yang hidup dipermukaan tumbuhan lain (biasanya pohon dan palma). Epifit mungkin hidup sebagai parasit atau hemi-parasit.
3. Paku-pakuan (Fern) : Tumbuhan tanpa bunga atau tangkai, biasanya memiliki rhizoma seperti akar dan berkayu, dimana pada rhizoma tersebut keluar tangkai daun.
4. Palma (Palm) : Tumbuhan yang tangkainya menyerupai kayu, lurus dan biasanya tinggi; tidak bercabang sampai daun pertama. Daun lebih panjang dari 1 meter dan biasanya terbagi dalam banyak anak daun.
5. Pemanjat (Climber) : Tumbuhan seperti kayu atau berumput yang tidak berdiri sendiri namun merambat atau memanjat untuk penyokongnya seperti kayu atau belukar.
6. Terna (Herb) : Tumbuhan yang merambat ditanah, namun tidak menyerupai rumput. Daunnya tidak panjang dan lurus, biasanya memiliki bunga yang menyolok, tingginya tidak lebih dari 2 meter dan memiliki tangkai lembut yang kadang-kadang keras.
7. Pohon (Tree) : Tumbuhan yang memiliki kayu besar, tinggi dan memiliki satu batang atau tangkai utama dengan ukuran diameter lebih dari 20 cm.
Untuk tingkat pohon dapat dibagi lagi menurut tingkat permudaannya, yaitu :
a. Semai (Seedling) : Permudaan mulai dari kecambah sampai anakan kurang dari 1.5 m.
b. Pancang (Sapling) : Permudaan dengan tinggi 1.5 m sampai anakan berdiameter kurang dari 10 cm.
c. Tiang (Poles) : Pohon muda berdiameter 10 cm sampai kurang dari 20 cm.
Adapun parameter vegetasi yang diukur dilapangan secara langsung adalah :
1. 1. Nama jenis (lokal atau botanis)
2. 2. Jumlah individu setiap jenis untuk menghitung kerapatan
3. 3. Penutupan tajuk untuk mengetahui persentase penutupan vegetasi terhadap lahan
4. 4. Diameter batang untuk mengetahui luas bidang dasar dan berguna untuk menghitung volume pohon.
5. 5. Tinggi pohon, baik tinggi total (TT) maupun tinggi bebas cabang (TBC), penting untuk mengetahui stratifikasi dan bersama diameter batang dapat diketahui ditaksir ukuran volume pohon.
Hasil pengukuran lapangan dilakukan dianalisis data untuk mengetahui kondisi kawasan yang diukur secara kuantitatif. Dibawah ini adalah beberapa rumus yang penting diperhatikan dalam menghitung hasil analisa vegetasi, yaitu :
a. Indeks Nilai Penting (INP)
Indeks Nilai Penting (INP) ini digunakan untuk menetapkan dominasi suatu jenis terhadap jenis lainnya atau dengan kata lain nilai penting menggambarkan kedudukan ekologis suatu jenis dalam komunitas. Indeks Nilai Penting dihitung berdasarkan penjumlahan nilai Kerapatan Relatif (KR), Frekuensi Relatif (FR) dan Dominansi Relatif (DR), (Mueller-Dombois dan ellenberg, 1974; Soerianegara dan Indrawan, 2005).

b. Keanekaragaman Jenis

Keanekaragaman jenis adalah parameter yang sangat berguna untuk membandingkan dua komunitas, terutama untuk mempelajari pengaruh gangguan biotik, untuk mengetahui tingkatan suksesi atau kestabilan suatu komunitas. Keanekaragaman jenis ditentukan dengan menggunakan rumus Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener :
       
dimana : H’ = Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener
ni = Jumlah individu jenis ke-n
N = Total jumlah individu
a. Indeks Kekayaan Jenis dari Margallef (R1)
dimana :
R1 = Indeks kekayaan Margallef
S = Jumlah jenis
N = Total jumlah individu
a. Indeks Kemerataan Jenis
picture5
Dimana :
E = Indeks kemerataan jenis
H’ = Indeks keanekaragaman jenis
S = Jumlah jenis
Berdasarkan Magurran (1988) besaran R1 < 3.5 menunjukkan kekayaan jenis yang tergolong rendah, R1 = 3.5 – 5.0 menunjukkan kekayaan jenis tergolong sedang dan R1 tergolong tinggi jika > 5.0.
Besaran H’ < 1.5 menunjukkan keanekaragaman jenis tergolong rendah, H’ = 1.5 – 3.5 menunjukkan keanekaragaman jenis tergolong sedang dan H’ > 3.5 menunjukkan keanekaragaman tergolong tinggi.
Besaran E’ < 0.3 menunjukkan kemerataan jenis tergolong rendah, E’ = 0.3 – 0.6 kemerataan jenis tergolong sedang dan E’ > 0.6 maka kemerataaan jenis tergolong tinggi.
a. Koefisien Kesamaan Komunitas
Untuk mengetahui kesamaan relatif dari komposisi jenis dan struktur antara dua tegakan yang dibandingkan dapat menggunakan rumus sebagai berikut (Bray dan Curtis, 1957 dalam Soerianegara dan Indrawan, 2005) :
picture6
dimana :
IS = Koefisien masyarakat atau koefisien kesamaan komunitas
W = Jumlah nilai yang sama dan nilai terendah ( < ) dari jenis-jenis yang terdapat dalam dua tegakan yang dibandingkan
a, b = Jumlah nilai kuantitatif dari semua jenis yang terdapat pada tegakan pertama dan kedua
Nilai koefisien kesamaan komunitas berkisar antara 0-100 %. Semakin mendekati nilai 100%, keadaan tegakan yang dibandingkan mempunyai kesamaan yang tinggi. Dari nilai kesamaan komunitas (IS) dapat ditentukan koefisien ketidaksamaan komunitas (ID) yang besarnya 100 – IS. Untuk menghitung IS, dapat digunakan nilai kerapatan, biomassa, penutupan tajuk atau INP.
Sebagai contoh, kita membandingkan tingkat permudaan semai hutan primer dengan hutan setelah ditebang dan dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini :
Tabel 2. Nilai Kesamaan Kerapatan antara Hutan Primer dengan Hutan setelah ditebang pada tingkat Semai
picture7
Maka nilai kesamaan komunitas (IS) = ((2 x 55) / (224 + 84)) x 100%
= 35.71%
Nilai diatas menunjukkan bahwa antara kondisi primer dan setelah ditebang dari segi jumlah individu (kerapatan) hanya mempunyai tingkat kesamaan sekitar 35.71% artinya setelah dilakukan penebangan terjadi kehilangan jumlah individu sekitar 64.29%.
f. Indeks Dominasi
Indeks dominasi digunakan untuk mengetahui pemusatan dan penyebaran jenis-jenis dominan. Jika dominasi lebih terkonsentrasi pada satu jenis, nilai indeks dominasi akan meningkat dan sebaliknya jika beberapa jenis mendominasi secara bersama-sama maka nilai indeks dominasi akan rendah. Untuk menentukan nilai indeks dominasi digunakan rumus Simpson (1949) dalam Misra (1973) sebagai berikut :
picture8
Dimana :
C : Indeks dominasi
ni : Nilai penting masing-masing jenis ke-n
N : Total nilai penting dari seluruh jenis
Tulisan ini disadur dari buku : Soerianegara, I dan Andry Indrawan. 2005. Ekologi Hutan Indonesia. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Pengikut

Get Paid To Promote, Get Paid To Popup, Get Paid Display Banner